Lombok BaratPendidikan

Peminat Membeludak, SMKN 1 Gerung Terancam Kekurangan Ruang Kelas

Lombok Barat (NTBSatu) – Tingginya minat masyarakat masuk SMKN 1 Gerung justru membuka persoalan lama yang belum terselesaikan. Sekolah vokasi terbesar di Lombok Barat itu kekurangan ruang kelas, sementara jumlah pendaftar terus meningkat.

Hingga mendekati akhir masa Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), jumlah pendaftar mencapai 527 orang. Padahal, sekolah hanya mampu menerima 396 siswa.

Kepala SMKN 1 Gerung, Erni Zuhara mengatakan, keterbatasan sarana membuat sekolah tidak bisa menampung seluruh peminat.

IKLAN

“Animo masyarakat cukup tinggi, tapi kelasnya tidak memadai,” kata Erni kepada NTBSatu, Senin, 22 Juni 2026.

Menurutnya, kapasitas sekolah saat ini sudah berada di titik kritis. Jika seluruh kuota siswa baru mereka terima, jumlah rombongan belajar akan mencapai 33 kelas. Masalahnya, sekolah hanya memiliki 17 ruang kelas.

“Saat ini ruang kelas kita baru 17. Kalau menerima 11 rombel baru, total menjadi 33 rombel. Masih kurang 16 ruang kelas,” ujarnya.

IKLAN

Artinya, jumlah ruang belajar yang tersedia hanya mampu memenuhi sekitar separuh kebutuhan sekolah.

Janji Pembangunan Belum Bergerak

Persoalan kekurangan ruang kelas sebenarnya sudah sampai ke telinga Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal.

Saat Safari Ramadan ke SMKN 1 Gerung pada Februari lalu, Iqbal meninjau langsung kondisi sekolah dan mendengar keluhan keterbatasan sarana. Namun, hampir empat bulan berlalu, pembangunan ruang kelas baru belum terlihat.

Erni mengatakan, pihak sekolah sudah mengusulkan kebutuhan pembangunan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB. “Sudah diajukan. Informasinya masih dalam proses validasi di dinas,” katanya.

Kondisi tersebut membuat sekolah harus kembali menghadapi tahun ajaran baru dengan keterbatasan yang sama. Padahal, SMKN 1 Gerung menjadi salah satu sekolah dengan peminat tertinggi pada SPMB tahun ini.

Persoalan ruang kelas menjadi ironi tersendiri. Sebab, sekolah ini justru menunjukkan tingkat serapan lulusan yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil tracer study, lebih dari 87 persen lulusan tahun lalu sudah bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan pendidikan. “Lebih dari 87 persen alumni kami sudah terserap,” ujarnya.

Data itu menjadi catatan penting di tengah kekhawatiran tingginya angka pengangguran lulusan SMK di NTB.

Sebelumnya, Gubernur Iqbal menyoroti fakta bahwa pengangguran di NTB masih didominasi lulusan SMK. “Kami tidak ingin SMK menjadi penyumbang pengangguran, tetapi menjadi solusi,” tegas Iqbal saat berkunjung ke SMKN 1 Gerung, Februari lalu.

Karena itu, tingginya minat masyarakat terhadap SMKN 1 Gerung seharusnya menjadi sinyal positif. Namun, keterbatasan ruang belajar berpotensi menghambat akses pendidikan vokasi yang dunia kerja butuhkan.

Ratusan Pendaftar Terancam Tersingkir

Dengan selisih lebih dari 130 pendaftar di atas kuota, ratusan calon siswa terancam tidak tertampung. Di sisi lain, sekolah mengaku sulit menambah kapasitas tanpa dukungan pembangunan ruang kelas baru.

Erni berharap, pemerintah segera memenuhi kebutuhan dasar sekolah agar pelayanan pendidikan berjalan sesuai Standar Nasional Pendidikan.

“Harapan kami kebutuhan mendasar pendidikan segera terpenuhi agar layanan bisa lebih optimal,” katanya.

Jika tidak segera tertangani, lonjakan peminat setiap tahun hanya akan menghasilkan persoalan yang sama yakni sekolah banyak yang minati, tetapi ruang belajar tidak cukup menampung siswa yang ingin masuk. (*)

Artikel Terkait