Jarak dan Sinyal Tak Halangi Mimpi Siswa dari Pelosok Sumbawa Tembus OSN Provinsi
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Prestasi membanggakan datang dari dua sekolah dasar di wilayah terpencil Kabupaten Sumbawa. Di tengah keterbatasan infrastruktur, akses internet, hingga medan perjalanan yang berat, siswa SDN Kopo, Kecamatan Orong Telu, dan SDN Tangkampulit, Kecamatan Batulanteh, berhasil menembus Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat yang berlangsung pada Senin, 20 Juli 2026.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi. Dengan pendampingan guru dan semangat belajar yang tinggi, siswa dari daerah pelosok mampu bersaing dengan peserta dari berbagai daerah di NTB.
SDN Kopo mengantarkan Ravi Wardani ke OSN tingkat Provinsi pada bidang Matematika. Sementara SDN Tangkampulit meloloskan Nagita Purnamasari, siswi kelas IV yang bertanding pada bidang Matematika. Nagita juga tercatat sebagai Juara I Pildacil Putri pada Olimpiade Pendidikan Agama Islam (OPAI) tingkat Kabupaten Sumbawa tahun ini.
Kepala SDN Kopo, Raudatul Jannah, S.Pd., mengatakan keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena sekolahnya berada di wilayah 3T yang hingga kini belum menikmati layanan listrik dan jaringan telekomunikasi secara memadai.
“Alhamdulillah kami sangat bersyukur. Dari empat peserta OSN tingkat kabupaten, satu siswa kami atas nama Ravi Wardani berhasil lolos ke tingkat provinsi pada bidang Matematika. Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi sekolah kami yang berada di daerah 3T,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 20 Juli 2026.
Raudatul menjelaskan, SDN Kopo berada di Dusun Kopo, Kecamatan Orong Telu. Sekolah memanfaatkan panel surya bantuan PLN sebagai sumber listrik dan layanan internet Starlink dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah agar kegiatan pembelajaran berbasis digital dapat berjalan.
Meski demikian, keterbatasan masih menjadi tantangan. Saat cuaca mendung atau hujan, pasokan listrik dari panel surya ikut terganggu karena minimnya cahaya matahari. Kondisi tersebut kerap memengaruhi aktivitas belajar maupun pelaksanaan kegiatan yang membutuhkan perangkat elektronik dan jaringan internet.
Sementara itu, Guru SDN Tangkampulit sekaligus Pembina Kegiatan Akademik, Yan Ariyani, S.Pd.SD., mengatakan sekolah sebenarnya mengirim peserta pada tiga bidang OSN, yakni Matematika, IPA, dan IPS. Namun, hanya peserta Matematika yang dapat mengikuti ujian dengan lancar.
“Alhamdulillah tahun ini kami bisa lolos ke tingkat provinsi pada bidang Matematika. Untuk IPA dan IPS, siswa kami tidak bisa melaksanakan tes karena terkendala jaringan internet. Saat token dirilis, sistem mengalami gangguan sehingga peserta tidak dapat masuk kembali ke aplikasi,” katanya.
Yan mengungkapkan, persoalan tersebut bukan pertama kali terjadi. Pada pelaksanaan OSN tahun sebelumnya, peserta bidang IPA dan Matematika hampir menyelesaikan seluruh soal. Namun, gangguan jaringan membuat jawaban tidak dapat terkirim sehingga hasil ujian tidak bisa diproses.
“Anak-anak sampai menangis karena merasa usahanya gagal akibat kendala teknis. Kami sebagai pembina juga merasa sangat kecewa karena tidak bisa mengantisipasi persoalan tersebut,” ujarnya.
Perjuangan Berjam-jam Demi Ikuti OSN
Perjuangan kedua sekolah tidak berhenti setelah siswa dinyatakan lolos ke tingkat provinsi. Guru dan orang tua harus menyusun perjalanan jauh menuju Kota Sumbawa agar para peserta dapat mengikuti OSN dalam kondisi terbaik.
Raudatul memilih membawa Ravi Wardani berangkat dari Dusun Kopo pada Minggu, 19 Juli 2026. Mereka memulai perjalanan sekitar pukul 12.00 Wita dan baru tiba di Kota Sumbawa sekitar pukul 20.00 Wita setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih delapan jam menggunakan sepeda motor.
Di tengah perjalanan, rombongan harus berhenti di tiga rumah kebun milik warga karena hujan turun. Jalan tanah yang berubah licin dan berbatu membuat perjalanan tidak mungkin dilanjutkan sebelum cuaca membaik.
“Kami berangkat sekitar pukul 12 siang dan sampai di Kota Sumbawa sekitar pukul delapan malam. Kami sempat berhenti di tiga rumah kebun jagung karena hujan. Kalau dipaksakan jalan, kami akan kesulitan melewati jalan yang becek dan berbatu,” kata Raudatul.
Berbeda dengan SDN Kopo, SDN Tangkampulit memilih membawa Nagita Purnamasari ke Kota Sumbawa sejak Jumat, 17 Juli 2026. Guru pembina sengaja datang lebih awal agar siswi tersebut memiliki waktu beristirahat sebelum mengikuti OSN tingkat Provinsi pada Senin.
Perjalanan dari Tangkampulit menuju Kota Sumbawa memakan waktu sekitar empat hingga enam jam menggunakan sepeda motor. Pada sejumlah tanjakan, Nagita harus turun dan berjalan kaki karena kendaraan tidak mampu melewati medan yang curam ketika membawa penumpang.
“Ananda kami bawa sejak Jumat untuk mengantisipasi kondisi fisiknya. Di beberapa tanjakan, anak harus turun dan berjalan kaki karena sepeda motor tidak kuat menanjak jika membawa penumpang,” tutur Yan.
Berharap Bantuan Pemerintah
Raudatul berharap Pemerintah Kabupaten Sumbawa memberi perhatian terhadap pembangunan akses jalan menuju Dusun Kopo serta rehabilitasi gedung sekolah. Sementara itu, Yan berharap pemerintah terus memperkuat jaringan internet, sarana pembelajaran, dan peningkatan kompetensi guru pembina di sekolah-sekolah terpencil.
“Anak-anak di pelosok memiliki potensi yang sama besarnya dengan anak-anak di perkotaan. Dengan dukungan fasilitas yang lebih baik, saya yakin akan semakin banyak anak-anak dari daerah terpencil yang mampu berprestasi hingga tingkat nasional bahkan internasional,” ujar Yan.
Perjuangan Ravi Wardani dan Nagita Purnamasari menunjukkan bahwa semangat belajar tidak pernah ditentukan oleh letak geografis. Di balik perjalanan panjang, keterbatasan listrik, dan gangguan jaringan internet, keduanya membawa harapan bahwa anak-anak dari pelosok Sumbawa mampu berdiri sejajar dan bersaing di tingkat yang lebih tinggi. (*)




