Unram Hidupkan Kearifan Lokal Sasak lewat Pembelajaran Sosiologi
Mataram (NTBSatu) – Universitas Mataram (Unram) menghidupkan kembali kearifan lokal Sasak melalui pembelajaran Sosiologi.
Upaya tersebut berlangsung melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Integrasi Kearifan Lokal Suku Sasak pada Mata Pelajaran Sosiologi (Pendampingan bagi Guru Sosiologi di SMA Abata Lombok).”
Kelompok Peneliti Bidang Ilmu Pendidikan Sosial dan Humaniora LPPM Unram menjalankan program tersebut untuk memperkuat kemampuan guru dalam memanfaatkan budaya Sasak sebagai sumber belajar Sosiologi.
Program ini berangkat dari pemikiran bahwa pembelajaran Sosiologi tidak hanya membutuhkan pemahaman teori tentang masyarakat. Peserta didik juga perlu memahami berbagai fenomena sosial yang tumbuh di lingkungan mereka.
Kearifan lokal Sasak memiliki beragam nilai sosial yang relevan dengan materi Sosiologi. Tradisi, norma, solidaritas, gotong royong, hingga pola hubungan antarwarga dapat menjadi contoh konkret bagi siswa untuk memahami konsep sosial.
Budaya Sasak Jadi Sumber Belajar
Sejumlah kearifan lokal Sasak memiliki keterkaitan dengan materi Sosiologi. Di antaranya awik-awik, sorong serah aji krame, Perang Topat, pujawali, ngejot, dan banjar.
Berbagai tradisi tersebut dapat membantu guru menjelaskan materi mengenai nilai dan norma, interaksi sosial, harmoni sosial, solidaritas, serta lembaga sosial.
Melalui program pendampingan, Unram memberikan penguatan kepada guru Sosiologi SMA Abata Lombok mengenai jenis kearifan lokal Sasak, relevansinya dengan materi pembelajaran, serta strategi mengintegrasikannya ke dalam kegiatan belajar mengajar.
Tim pengabdian menggunakan sejumlah metode, mulai dari penyampaian materi, diskusi, pendampingan, hingga evaluasi. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi guru untuk tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menyusun penerapan kearifan lokal dalam pembelajaran.
Guru Kembangkan Media Pembelajaran
Hasil program menunjukkan guru mulai mengembangkan media pembelajaran Sosiologi berbasis kearifan lokal. Media digital yang tersusun menghubungkan konsep interaksi sosial dengan fenomena budaya lokal.
Pendekatan tersebut membuat materi Sosiologi lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Guru dapat menghadirkan contoh yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran tidak berhenti pada hafalan konsep.
Unram juga menempatkan kearifan lokal sebagai bagian dari pendidikan karakter. Nilai yang terkandung dalam budaya Sasak dapat memperkuat pemahaman siswa mengenai kebersamaan, solidaritas, gotong royong, serta hubungan antarmanusia.
Salah satunya tercermin dalam tradisi banjar masyarakat Sasak. Banjar menjadi ruang bagi warga untuk membangun solidaritas, bekerja sama, dan saling membantu. Nilai serupa juga muncul dalam kesenian Gendang Beleq yang mengandung semangat kebersamaan dan gotong royong.
Melalui pendekatan tersebut, budaya lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan masyarakat, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang relevan bagi generasi muda.
Program Unram bersama SMA Abata Lombok sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam memperkuat kualitas pendidikan melalui pengabdian kepada masyarakat.
Pemanfaatan kearifan lokal dalam pembelajaran juga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Program ini berkaitan dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan, SDG 11 tentang komunitas berkelanjutan, SDG 16 tentang perdamaian dan kelembagaan yang kuat, serta SDG 17 tentang kemitraan.
Dari perspektif Times Higher Education Impact Rankings, kegiatan tersebut memperlihatkan kontribusi Unram dalam menghadirkan pendidikan yang berdampak sekaligus menjaga keberlanjutan budaya lokal.
Penguatan kapasitas guru, pengembangan media pembelajaran, dan pemanfaatan budaya Sasak menjadi satu rangkaian yang mempertemukan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat.
Program tersebut juga menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan ilmu pengetahuan. Unram turut mendorong penerapan ilmu agar memberikan manfaat bagi sekolah, peserta didik, dan komunitas.
Melalui pembelajaran Sosiologi berbasis kearifan lokal, Unram mendorong budaya Sasak tetap hadir dalam ruang pendidikan sekaligus menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang memahami identitas, kehidupan sosial, dan nilai kebersamaan masyarakatnya.
Sumber: Laporan Pengabdian Internal Universitas Mataram Tahun 2025, “Integrasi Kearifan Lokal Suku Sasak pada Mata Pelajaran Sosiologi (Pendampingan bagi Guru Sosiologi di SMA Abata Lombok).” (*)




