Kota BimaPendidikan

SMK Negeri 2 Kota Bima Genjot Pendidikan Kewirausahaan bagi Siswa

Kota Bima (NTBSatu) – SMK Negeri 2 Kota Bima kini memperkuat pendidikan kewirausahaan guna mencetak lulusan yang mandiri di tengah terbatasnya lapangan kerja daerah. Langkah strategis ini menjadi jawaban atas tantangan penyerapan tenaga kerja terampil yang belum optimal di wilayah Bima.

Kepala SMK Negeri 2 Kota Bima, Fathur Rahman menegaskan, kualitas lulusan vokasi saat ini sebenarnya sudah mumpuni. Namun, minimnya investasi daerah membuat kesempatan kerja bagi para lulusan masih tergolong sempit.

“Dengan minimnya investasi di Bima ini, SMK itu bom waktu. Sekolahnya memang urusan provinsi, tetapi anak-anaknya adalah anak-anak Kota Bima,” ujar Fathur Rahman.

IKLAN

Ia menmbahkan, di sepanjang tahun 2026 ini, sudah ada 90 persen lulusan SMK Negeri 2 Kota Bima yang memegang sertifikasi.

“Tahun ini saja hampir 90 persen lulusan kami sudah memiliki sertifikasi. Tinggal setelah lulus pemerintah yang perlu memikirkan penyerapan mereka,” Imbuh Fathur Rahman.

Guna mengantisipasi persoalan tersebut, pihak sekolah mengubah pola pembinaan peserta didik. 

Pihak sekolah tak hanya menyiapkan para siswa untuk menguasai kompetensi keahlian akademik, tetapi juga dibekali mental dan keterampilan untuk membangun usaha sendiri.

“Kalau mereka langsung direkrut tentu alhamdulillah. Tapi kalau belum ada lowongan pekerjaan, mereka harus sudah berani membuka lapangan pekerjaan sendiri. Itu yang sekarang lebih fokus kami bekali,” tegasnya.

Saat ini, sekolah dengan 814 siswa tersebut mengelola 13 kompetensi keahlian yang didominasi bidang teknologi, seperti Teknik Kendaraan Ringan hingga Teknik Komputer dan Jaringan. 

Perbarui 68 MoU dengan Berbagai Perusahaan

Untuk menunjang kesiapan kerja siswa, SMK Negeri 2 Kota Bima memperbarui sekitar 68 nota kesepahaman (MoU) dengan berbagai perusahaan di dalam maupun luar Nusa Tenggara Barat. 

Kerjasama ini mencakup program magang siswa dan guru, penyelarasan kurikulum, hingga kehadiran guru tamu dari kalangan praktisi.

“Perusahaan memberikan kesempatan kepada siswa untuk magang, guru juga magang di industri. Mereka ikut menyelaraskan kurikulum sekolah sesuai kebutuhan dunia kerja,” tutur Fathur.

Selain mendorong kewirausahaan dan penyaluran kerja, sekolah tetap memotivasi siswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. (*)

Artikel Terkait