Mataram (NTBSatu) – Salah satu film yang berlatar belakang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), berjudul Little Treasures of Lombok, sempat menjadi perbincangan masyarakat selama satu dekade ini.
Film semi dokumenter yang rilis tahun 2014 dengan Sutradara Gilles Frenken itu, sukses meraih 5 juta tayangan dan 31 ribu suka di platform YouTube.
Frenken menggandeng Yayasan Peduli Anak yang berbasis di Lombok sebagai mitra pembuatan film ini. Film ini terunggah di akun YouTube yayasan itu juga. Sutradara asal Belanda tersebut memotret secara mendalam kehidupan anak jalanan Lombok yang serba pilu.
Film berdurasi 1 jam 10 menit 36 detik tersebut sukses menjadi bahasan banyak penggemar film. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Sasak, namun sudah ada terjemahan bahasa Indonesia. Tak jarang, film ini juga menjadi bahan kajian oleh akademisi.
Sinopsis Film “Little Treasures of Lombok”
Film ini berfokus pada dua karakter anak jalanan dari Lombok, yaitu Man dan Sugeng. Man merupakan anak yang memilih kabur dari rumahnya karena menghadapi kekerasan oleh ayahnya.
Dalam film tersebut, Man ceritanya bekerja serabutan untuk makan setiap harinya. Ia kadang menjadi kernet bemo, membersihkan bemo atau apa pun yang bisa ia kerjakan agar ia mendapat upah sebesar Rp1000- Rp5000 per kerjanya. Uang yang ia dapat hanya cukup untuk makan sehari.
Suatu ketika, Man bertemu dengan Sugeng. Sugeng berbeda, orang tuanya menelantarkannya. Dalam film, ia menyebut orang tuanya pergi meninggalkannya ke luar negeri. Sugeng bertahan hidup dengan berjualan asongan yang ia dapat dari merampok anak jalanan lainnya.
Sepanjang film, penonton akan tersentuh dengan kisah pilu Man dan Sugeng. Tak jarang, mereka mendapat kekerasan fisik bahkan pelecehan seksual oleh orang yang lebih tua.
Hingga suatu hari, relawan Yayasan Peduli Anak mengajak dua karakter itu untuk masuk ke penampungan. Awalnya hanya Man yang mau ikut, ia mendapat perawatan yang layak selama di yayasan. Yayasan bahkan mengajaknya bertemu dengan orang tuanya, namun, Man tak mau tinggal bersama orang tuanya lagi.
Lebih lanjut, Sugeng juga akhirnya ikut masuk yayasan. Ia akhirnya tersadar setelah melihat Man. Namun, di akhir film, Man justru tak bertahan dan memilih keluar. Man mengatakan lebih menikmati kehidupan yang liar.
Ulasan Film Little Treasures of Lombok
Frenken menulis di awal filmnya kalau film ini berdasarkan kisah nyata kehidupan anak jalanan Lombok. Secara umum, keseluruhan ceritanya benar-benar bisa membuat penonton geleng-geleng kepala. Perpaduan rasa sedih, empati dan lucu karena tingkah karakternya menjadi bumbu dalam film ini.
Visual film yang menggambarkan kondisi kota Mataram, Senggigi, Pelabuhan Lembar dan beberapa tempat lain di Lombok pada masa awal tahun 2000-an membuat film ini terasa nyata.
Performa dan akting setiap karakter hampir tak ada yang dibuat-buat juga menambah kesan haru film ini. Hal itu juga dampak karena film ini diperankan oleh anak jalanan asli.
Secara keseluruhan, film ini cocok menemani waktu bersama keluarga. Pesan dalam film yang cukup banyak bisa menjadi alasan kuat film ini NTBSatu rekomendasikan. (*)




