Pendidikan

Dinas Dikpora NTB Soroti Krisis Literasi dan Numerasi, Rapor Pendidikan Dinilai Belum Meyakinkan

Mataram (NTBSatu)Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB menyoroti kemampuan literasi dan numerasi siswa di NTB yang masih rendah. Kondisi itu tercermin dari hasil Rapor Pendidikan dan Asesmen Nasional yang belum menunjukkan capaian meyakinkan.

Kepala Dinas Dikpora NTB, Syamsul Hadi mengatakan, persoalan literasi dan numerasi menjadi masalah serius yang kini menjadi perhatian pemerintah daerah.

“Persoalan kita di NTB terkait literasi-numerasi, ini permasalahan yang sangat serius. Rapor Pendidikan kita juga tidak terlalu meyakinkan. Yang tergambarkan melalui kegiatan Asesmen Nasional juga tidak terlalu meyakinkan,” ujarnya kepada wartawan belum lama ini.

IKLAN

Menurut Syamsul, kemampuan literasi dan numerasi menjadi gambaran kualitas layanan pendidikan di NTB. Jika mengacu pada berbagai hasil evaluasi, baik internal maupun eksternal, layanan pendidikan di NTB masih belum maksimal.

“Kalau mengacu kepada data ini, maka tentu sulit kita mengatakan NTB sudah memenuhi standar layanan minimal pendidikan,” katanya.

Karena itu, pihaknya kini menyiapkan berbagai strategi untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Salah satunya melalui seminar dan pelatihan pendidikan yang melibatkan pemanfaatan teknologi pembelajaran.

IKLAN

Syamsul menyebut, kegiatan tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan di NTB. Namun ia menegaskan seminar tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.

“Seminar itu tidak berhenti sampai di seminarnya saja, tetapi perlu menindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak kita,” tegasnya.

AI Bukan Menggantikan Guru

Ia juga menyoroti penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan atau AI dalam dunia pendidikan. Menurutnya, teknologi harus menjadi asisten guru, bukan menggantikan peran guru sepenuhnya.

Karena itu, guru tetap harus memverifikasi dan memvalidasi informasi yang teknologi hasilkan sebelum menyampaikan kepada siswa.

“Jadikan teknologi apa pun, sebagai asisten bagi guru. Kalau namanya asisten kita, tentu kita verifikasi sebelum kita menyampaikan sesuatu,” ucapnya.

Syamsul menilai kemampuan literasi dan numerasi menjadi modal utama anak-anak menghadapi tantangan masa depan. Karena itu, dunia pendidikan di NTB harus fokus meningkatkan dua kemampuan dasar tersebut.

Syamsul juga berharap seluruh pihak memberi perhatian serius terhadap peningkatan literasi dan numerasi siswa.

“Kalau kita ingin bangsa ini maju, hebat, bahagia, dan sejahtera, maka hari ini kita harus fokus meningkatkan literasi dan numerasi,” tutupnya. (*)

Artikel Terkait

Back to top button