Breaking NewsNTB

Seorang Santriwati Ponpes Nurul Haramain Jatuh dari Lantai 3, Koma dan Akhirnya Meninggal

Mataram (NTBSatu) – Seorang santriwati dari Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Haramain Putri, berinisial BAL dilaporkan meninggal dunia pada Kamis, 11 Juni 2026. Ia meninggal setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat terjatuh dari lantai tiga Gedung Khofifah.

Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB, Solikin, membenarkan bahwa benar ada korban berinisial BAL yang sempat mendapat perawatan.

Lebih lanjut, Solikin menegaskan jika korban tersebut merupakan pasien rujukan yang masuk dalam keadaan kritis, sebelum akhirnya wafat.

IKLAN

“Memang inisial BAL udah kita rawat sejak 6 Juni kita terima rujukan,” ujarnya, kepada NTBSatu, Kamis, 11 Juni 2026.

Rekaman CCTV

Berdasarkan keterangan resmi Ponpes Haramain, peristiwa tersebut berlangsung pada Jumat sore, 5 Juni 2026. Insiden bermula saat para santriwati baru selesai melaksanakan salat dan mengaji di aula samping pondok, sekitar pukul 16.00 Wita.

Saat kegiatan berlangsung, BAL berada di area lantai 3 Gedung Khofifah dan tidak bersama santri lain karena dalam keadaan menstruasi.

IKLAN

Sebelumnya, korban memang sudah sempat sering mengeluhkan sakit kepala atau pusing yang hebat setiap kali mengalami siklus datang bulan.

“Berdasarkan pengakuan bersangkutan, dia kerap merasakan sakit kepala atau pusing ketika haid,” tulis Dewan Pengasuhan Santriwati Ponpes Haramain, Akhwaf Habiburrahman. Dalam keterangan tertulis, Kamis, 11 Juni 2026.

Setelah itu, rekaman CCTV dan keterangan sejumlah korban saksi mata melihat BAL sempat berdiri dan berpegangan pada kanopi balkon lantai tiga.

Tepat pada pukul 16.12 Wita, korban tampak kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke area lapangan.

Lakukan Penanganan Awal

Suara benturan keras di area lapangan seketika mengejutkan sejumlah santriwati dan guru yang berada di sekitar lokasi. Dari keterangan saksi mata, posisi tubuh korban saat mendarat di tanah berada dalam posisi duduk. Namun setelah sesaat terjatuh, korban terlihat sempat berusaha bangkit.

Awalnya, insiden ini tidak sampai menggegerkan lingkungan pondok, karena tidak terlihat adanya luka luar yang serius pada tubuh korban.

Pihak pondok baru mengevakuasi korban ke Rumah Sakit (RS) Awet Muda, setelah keadaanya secara mendadak lemas akibat dugaan luka dalam.

Pada hari pertama perawatan di rumah sakit, keadaan BAL sempat membaik dan stabil. Korban sempat berkomunikasi dan menceritakan peristiwa tersebut kepada kakak kelasnya yang datang menjenguk.

“Dia sempat cerita kalau dia pusing, terus dia jatuh,” ujar saksi A (inisial samaran), kepada NTBSatu, Kamis, 11 Juni 2026.

Namun setelah hari pertama, kesehatan korban menurun drastis hingga tidak sadarkan diri (koma). Pihak keluarga dan kerabat sempat menyebarkan pesan berantai untuk mencari donor darah bari BAL, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Di sisi lain, pihak rumah sakit yang merawat korban masih menutup rapat soal informasi mengenai detail penanganan medis. Sekaligus status pihak pendamping korban saat pertama kali datang ke rumah sakit.

“Mohon maaf kalau yang itu enggak bisa. Rahasia pasien,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait