Lombok TengahPariwisata

Wisatawan Asing Ingatkan Bahaya Penjajahan Jenis Baru di Tengah Masifnya Investasi Lombok

Mataram (NTBSatu) – Masuknya investasi asing di Lombok, memicu kekhawatiran terkait potensi kolonialisme baru di kawasan pariwisata. Seorang wisatawan asing memperingatkan ekspansi modal asing yang tidak terkontrol dapat merugikan masyarakat setempat.

Ia menilai, sebagian besar investasi asing di area Kuta hingga Selong Belanak bukan bertujuan memberdayakan warga setempat. Investor memanfaatkan harga tanah yang murah serta upah tenaga kerja yang rendah demi mengejar margin keuntungan setinggi-tingginya.

Model pembangunan yang meniru komersialisasi agresif di Bali ini berisiko menggeser posisi warga lokal dari pemilik aset menjadi pekerja berupah murah. Sekaligus menyingkirkan masyarakat Sasak dari ruang hidup mereka sendiri.

IKLAN

​”Masyarakat Lombok harus berbicara lebih vokal mengenai jenis investor yang masuk ke pulau ini. Para investor ini hanya datang untuk menguasai dan meraup keuntungan sebesar-besarnya,” ujar wisatawan tersebut, mengutip akun Instagram @hijrah2lombok pada Rabu, 5 Juli 2026.

Perubahan Lanskap dan Ancaman Budaya Lokal

Selain itu, ia juga menilai perkembangan usaha pariwisata di Lombok juga kerap mengabaikan kearifan lokal serta norma mayoritas masyarakat setempat.

Banyak tempat usaha baru tidak lagi menyediakan fasilitas pengolahan makanan yang terpisah antara produk halal dan nonhalal, meskipun mayoritas pekerja di tempat tersebut merupakan warga Muslim.

​”Mereka tidak peduli pada masyarakat lokal maupun pekerja mereka. Banyak tempat usaha yang bahkan tidak lagi mengakomodasi kebutuhan mayoritas warga di sini,” katanya.

​Keadaan tersebut dapat mengikis identitas budaya dan tradisi lokal jika pemerintah daerah serta masyarakat tidak mengambil langkah tegas.

Ia menegaskan, pengelolaan pariwisata seharusnya tidak sekadar mengejar profitabilitas, melainkan juga menjaga nilai-nilai sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Ancaman Kehilangan Kendali atas Tanah

Unggahan yang mengemuka menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut mengingatkan warga agar tidak terlena oleh narasi investasi semata.

Tanpa regulasi yang memihak rakyat, modal asing dapat menyerap pendapatan daerah. Mereka akan membawanya keluar dari Lombok tanpa meninggalkan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga setempat.

​”Indonesia telah berjuang merebut kemerdekaan. Tetapi kini banyak orang secara perlahan kehilangan kendali atas tanah dan masa depan mereka sendiri tanpa menyadarinya,” tulisnya dalam takarir unggahannya.

​Oleh karena itu, ia meminta masyarakat Sasak dan pemerintah daerah perlu memperketat pengawasan serta selektivitas terhadap setiap investasi yang masuk. Langkah ini penting untuk memastikan pembangunan pariwisata berjalan seimbang, inklusif, serta tetap menghormati hak-hak warga lokal.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Muhammad Hatta, menegaskan akan melakukan koordinasi dengan beberapa pihak untuk pembatasan izin bagi investor asing.

“Isu ini nanti akan saya bahas bersama stakeholder terkait agar kita menemukan fakta kondisi di lapangan seperti apa. Dan perumusan kebijakan nantinya sesuai kondisi pembahasan,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait