Dugaan Kekerasan Seksual WNA Inggris: Apresiasi Gerak Cepat Polda NTB, Dorong Sinergi Warga dan Pelaku Wisata
Mataram (NTBSatu) — Kuta, Lombok Tengah, telah menjadi salah satu wajah pariwisata NTB di mata dunia. Namun di tengah pesatnya perkembangan pariwisata, keamanan dan perlindungan wisatawan dinilai harus mendapat perhatian yang sama seriusnya dengan promosi destinasi.
Pesan itu mengemuka saat Kuta SOS, Founder NTB Solution Center sekaligus pemerhati perempuan NTB Aishah Mohamed, bersama Tim Hukum BATUA Law Office mendatangi Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA dan PPO) Polda NTB, Rabu 7 Oktober 2026.
Kedatangan mereka sekaligus untuk menyampaikan apresiasi atas respons cepat Polda NTB dalam menangani perkara dugaan kekerasan seksual terhadap seorang perempuan warga negara Inggris yang terjadi di kawasan Kuta, Lombok Tengah, beberapa waktu lalu.
Rombongan diterima Direktur Ditres PPA dan PPO Polda NTB, Pujewati. Pertemuan berlangsung hangat dengan membahas perkembangan penanganan perkara sekaligus langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat perlindungan wisatawan ke depan.
“Kami mengapresiasi Polda NTB yang responsif dan bergerak cepat menangani perkara ini. Respons seperti ini penting, bukan hanya memberikan rasa aman kepada korban, tetapi juga membangun kepercayaan bahwa ketika wisatawan menghadapi persoalan di NTB, ada aparat yang hadir dan hukum bekerja,” kata Aishah.
Menurut Aishah, perkara tersebut harus menjadi momentum untuk membangun sistem perlindungan yang lebih kuat di kawasan wisata, bukan sekadar menjadi berita yang ramai sesaat kemudian dilupakan.
Ia menilai masih terdapat persoalan di lapangan yang tidak seluruhnya berujung pada laporan. Hambatan bahasa, rasa takut, ketidaktahuan mengenai prosedur hukum hingga kebingungan mencari tempat meminta pertolongan dapat membuat korban memilih diam.
“Jangan tunggu ada korban berikutnya baru kita bergerak. Kuta sudah menjadi destinasi internasional. Sistem keamanan dan perlindungannya juga harus semakin siap,” ujarnya.
Kuta SOS mendorong terciptanya sinergi yang lebih kuat antara aparat keamanan, masyarakat lokal dan pelaku pariwisata di Lombok Tengah, khususnya kawasan Kuta.
Menurut Aishah, keamanan wisatawan tidak mungkin hanya menjadi tanggung jawab kepolisian. Warga lokal, pengelola hotel dan penginapan, restoran, tempat hiburan, pemandu wisata hingga komunitas pariwisata merupakan pihak yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan wisatawan.
“Aparat tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat lokal dan pelaku pariwisata harus menjadi bagian dari sistem perlindungan. Kalau semuanya memiliki kepedulian dan perspektif yang sama, kita bisa menciptakan Kuta yang bukan hanya indah, tetapi juga aman dan ramah bagi siapa pun,” katanya.
Kuta SOS juga berharap kawasan wisata internasional didukung petugas keamanan maupun aparat penegak hukum yang mampu berkomunikasi dalam bahasa asing, khususnya bahasa Inggris.
Selain kemampuan bahasa, keberadaan petugas perempuan atau personel yang memiliki perspektif perlindungan perempuan dan korban kekerasan dinilai penting, terutama dalam menerima laporan dari wisatawan perempuan.
Pendekatan yang komunikatif, humanis dan sensitif terhadap kondisi korban diharapkan membuat wisatawan merasa lebih nyaman ketika harus menceritakan peristiwa yang dialaminya.
“Bayangkan seorang wisatawan perempuan mengalami kekerasan. Dia takut, tidak memahami bahasa kita dan tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. Pada kondisi seperti itulah kita membutuhkan petugas yang mampu berkomunikasi dan membuat korban merasa aman untuk bercerita,” ujar Aishah.
“Pariwisata adalah Piring Nasi Kita”
Aishah menegaskan, membicarakan keamanan wisatawan bukan berarti memberikan stigma bahwa Kuta tidak aman. Sebaliknya, keberanian melihat persoalan dan memperbaiki sistem perlindungan merupakan bagian dari menjaga kepercayaan terhadap pariwisata NTB.
“Jangan karena perbuatan satu oknum kemudian citra pariwisata kita ikut rusak. Pariwisata adalah piring nasi kita. Banyak masyarakat menggantungkan hidup dari sektor ini. Karena itu, kita harus menjaganya bersama,” tegasnya.
Kuta SOS berharap ke depan terbangun kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah daerah, Polda NTB, aparat di tingkat lokal, masyarakat dan pelaku pariwisata untuk memperkuat sistem pengaduan, edukasi, pendampingan serta respons cepat terhadap persoalan yang dialami wisatawan.
“Kuta sudah dikenal dunia karena keindahannya. Sekarang tugas kita bersama memastikan Kuta juga dikenal sebagai tempat yang aman dan ramah, serta memiliki sistem yang siap membantu ketika wisatawan menghadapi masalah. Pariwisata adalah piring nasi kita, maka menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkas Aishah. (*)




