Capaian Program CKG di Lombok Tengah Baru 13,3 Persen
Lombok Tengah (NTBSatu) – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Lombok Tengah hingga minggu kedua Mei 2026, baru mencapai 13,3 persen. Capaian tersebut dari target penduduk yang Pemerintah Pusat tetapkan.
Dinas Kesehatan Lombok Tengah mengakui, masih ada sejumlah kendala yang membuat pelaksanaan program belum maksimal.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Lombok Tengah, target 2026 untuk kelompok penduduk mencapai 46 persen atau setara 524.717 jiwa. Sementara itu, hingga pertengahan Mei, jumlah masyarakat yang mendaftar di seluruh Puskesmas tercatat sebanyak 74.500 orang dengan 71.696 orang sudah hadir dan mendapatkan pelayanan.
“CKG ini pelayanan siklus hidup, mulai dari bayi baru lahir sampai lansia. Jadi masing-masing kelompok umur punya target sendiri,” ujar Fungsional Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Al Muslim kepada NTBSatu, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia menjelaskan, target CKG untuk bayi baru lahir sebesar 70 persen, anak balita dan prasekolah 55 persen, usia sekolah 35 persen, kelompok dewasa 45 persen, dan lansia 55 persen.
Untuk mengejar target tersebut, pihaknya telah melakukan evaluasi bersama seluruh Puskesmas di Lombok Tengah. Evaluasi terakhir dipusatkan di Puskesmas Aikmual dengan sistem bergilir, terutama untuk melihat Puskesmas dengan capaian tertinggi maupun terendah.
Terkendala Aplikasi hingga Logistik
Dari hasil evaluasi, salah satu kendala utama berada pada sistem aplikasi pencatatan pelayanan. Petugas Puskesmas harus melakukan penginputan data ke beberapa aplikasi sekaligus, mulai dari Satu Sehat Indonesia (SSI), e-Puskesmas, hingga aplikasi BPJS.
“Satu pasien bisa di-entry tiga kali dengan pertanyaan yang hampir sama. Itu yang membuat pelayanan jadi memakan waktu,” katanya.
Selain itu, keterbatasan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) juga menjadi hambatan. Hingga kini, logistik dari Pemerintah Pusat baru mencakup stik pemeriksaan gula darah cepat dan beberapa perlengkapan dasar lainnya.
Akibatnya, sebagian besar layanan CKG di Lombok Tengah yang berjalan masih menggunakan paket pemeriksaan cepat berupa skrining kesehatan dan pengecekan gula darah.
Kendala lain juga muncul dari sisi penganggaran. Menurutnya, program CKG belum memiliki alokasi anggaran khusus. Sehingga dalam pelaksanaannya, pihaknya harus mengintegrasikannya dengan kegiatan lain, seperti UKS di sekolah maupun Posyandu.
“Kalau turun ke lapangan biasanya digabung dengan kegiatan lain karena belum ada penganggaran khusus,” ujarnya.
Terapkan Strategi Jemput Bola
Untuk meningkatkan capaian, Dinas Kesehatan Lombok Tengah mulai menerapkan strategi jemput bola melalui Puskesmas. Beberapa Puskesmas seperti Praya dan Praya Timur, kini mulai mendatangi instansi pemerintahan untuk memberikan layanan CKG secara langsung.
Selain itu, pihaknya juga meminta Puskesmas memperkuat tim penginput data dengan menambah jumlah akun operator agar proses entry pelayanan lebih cepat. “Sekarang masing-masing petugas harus punya username sendiri, jadi tim entry diperkuat,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah Puskesmas bahkan mulai menyiapkan penghargaan bagi petugas yang membantu percepatan penginputan data pelayanan CKG.
Rujuk Internal Warga dengan Risiko Penyakit
Dinas Kesehatan Lombok Tengah memastikan, masyarakat yang memiliki risiko penyakit saat mengikuti CKG akan pihaknya arahkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan di Puskesmas melalui mekanisme rujukan internal.
Masyarakat dengan hasil pemeriksaan yang berisiko seperti kencing manis, obesitas, hipertensi, hingga gangguan mental akan ditindaklanjuti untuk mendapatkan pelayanan kesehatan lebih lanjut di Puskesmas.
“Yang penting setiap individu punya hak satu kali dalam setahun untuk CKG,” tutupnya. (Caca)




