Masyarakat Sumbawa Vs PT AMNT, Mencari Jalan Tengah antara Tambang dan Masa Depan Peradaban Sumbawa
Oleh: Muhammad Iqbal – Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Perencanaan, dan Pengembangan Universitas Teknologi Sumbawa
Sebentar lagi perusahaan tambang emas mineral, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT) akan berpindah melakukan kegiatan eksploitasi mineral di lokasi Dodo Rinti, Kabupaten Sumbawa. Rencana ini telah dipublikasikan sebelumnya di beberapa forum pertemuan dan media.
Saat acara Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) tahun 2026 Kabupaten Sumbawa bulan yang lalu, petinggi PT AMNT berkesempatan menyampaikan rencana kegiatan selanjutnya perusahaan di Kabupaten Sumbawa. Berdasarkan informasi, kegiatan eksploitasi mineral Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat akan masuk pada fase terakhir.
Secara psikologis, masyarakat sumbawa harap harap cemas. Berharap akan ada kesejahteraan, cemas terhadap dampak sosial budaya dan lingkungan yang akan terjadi. Masyarakat sumbawa tidak ingin praktek buruk yang telah terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat, terulang kembali terjadi di Kabupaten Sumbawa. Inilah isu yang hangat didiskusikan di tengah masyarakat Sumbawa.
Sebagai masyarakat Sumbawa, saya mengamati diskusi tentang keberadaan perusahaan tambang di Sumbawa, berada pada dua sudut pandang. Di satu sisi, ada kelompok yang melihat PT AMNT sebagai simbol kemajuan ekonomi dan harapan kesejahteraan. Di sisi lain, ada kelompok yang memandangnya sebagai ancaman terhadap lingkungan, budaya lokal, dan kemandirian Masyarakat.
Dalam konteks ini, sebelum PT AMNT akan “bertarung” dengan masyarakat Sumbawa nantinya, penting kita mengajukan satu “pertanyaan pertarungannya” yaitu bisakah masyarakat sumbawa menang dan PT AMNT juga menang secara bersamaan? Jawabannya Bisa. Asalkan hubungan keduanya dibangun diatas prinsip keberlanjutan, dan visi jangka Panjang.
Selama ini, paradigma pembangunan tambang sering bersifat transaksional. Masyarakat diberi pekerjaan, bantuan sosial atau program CSR. Sementara perusahaan memperoleh stabilitas operasi dan keuntungan ekonomi. Hubungan seperti ini memang dapat menciptakan ketenangan sesaat, tetapi belum tentu menciptakan kemajuan dan perubahan dalam waktu jangka panjang. Ingat, masyarakat sumbawa tidak hanya membutuhkan “manfaat ekonomi” tetapi juga rasa memiliki terhadap masa depan daerahnya sendiri.
Jalan Tengah
Masyarakat Sumbawa masih menjaga dan memegang nilai nilai sosial budaya dan agama. Hubungan masyarakat dengan alam masih dekat. Ketika industri tambang masuk, maka benturan sosial tidak dapat dihindari. Dan yang sering terjadi tidak hanya perubahan ekonomi, tetapi juga perubahan cara hidup. Sehingga Jika tidak dikelola dengan bijak, tambang dapat menciptakan “kemajuan yang rapuh”. Ekonomi tumbuh cepat, tetapi karakter sosial melemah.
Namun di sisi lain, menolak kehadiran industri tambang secara total juga bukan jawaban realistis. Dunia modern ini membutuhkan mineral, energi dan investasi. Sumbawa membutuhkan lapangan kerja, infrastruktur, teknologi dan akselerasi ekonomi. Dan PT AMNT berpeluang besar melakukan itu. Karena itu, jalan yang paling rasional bukan konflik yang berkepanjangan, tetapi membangun model kerja sama baru yang lebih setara, sejajar dan sama – sama menang.
Masyarakat Sumbawa harus berhenti diposisikan hanya sebagai “penonton” atau “penerima dampak”. Masyarakat Sumbawa harus menjadi subjek utama pembangunan. Artinya, keberhasilan PT AMNT tidak boleh diukur dari produksi tambang atau keuntungan perusahaan semata, tetapi juga dari pertanyaan yang lebih mendasar : Dengan keberadaan PT AMNT, apakah kualitas pendidikan masyarakat sumbawa meningkat?, Apakah lahir pengusaha lokal sumbawa yang kuat?, Apakah petani dan nelayan Sumbawa tetap hidup bermartabat?, Apakah lingkungan Sumbawa tetap dijaga?, Apakah generasi muda Sumbawa memiliki keterampilan untuk hidup setelah tambang berakhir? Apakah budaya Sumbawa tetap tumbuh?.
Jika jawaban atas pertanyan – pertanyaan itu “ya”, maka masyarakat menang. Dan ketika Masyarakat Sumbawa dihargai, dilibatkan, serta merasakan manfaat jangka panjang secara nyata, maka PT AMNT akan memperoleh legitimasi sosial yang kuat. Konflik menurun, produktivitas perusahaan terjaga dan keberlanjutan operasi menjadi lebih sehat. Dan di titik itulah PT AMNT juga menang. Inilah konsep yang sering dilupakan, keberhasilan perusahaan tambang bukan hanya soal izin dari pemerintah tetapi juga izin sosial dari masyarakat.
Akhirnya, kemenangan sejati bukan satu pihak lebih kaya atau lebih kuat. Kemenangan sejati adalah ketika kekayaan alam Sumbawa mampu diubah menjadi kualitas hidup masyarakat Sumbawa menjadi lebih baik. Lebih cerdas, lebih sehat, lebih mandiri, lebih produktif, dan lebih bermartabat karena kehadiran tambang, maka masyarakat menang. Dan jika PT AMNT mampu tumbuh bersama masyarakat, dihormati karena kontribusinya, serta meninggalkan warisan pembangunan yang berkelanjutan, maka perusahaan juga menang. Masyarakat Sumbawa menang, PT AMNT menang, dan yang paling penting: masa depan Sumbawa ikut menang. (*)




