Lombok Barat

Patahkan Stigma, Siswa Disabilitas Lobar Tampil Percaya Diri Pamer Bakat dan Karya

Lombok Barat (NTBSatu) – Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Lombok Barat (Lobar) membuka ruang ekspresi bagi siswa disabilitas melalui Gebyar Budaya Literasi, Kamis, 18 Juni 2026.

Di balik suasana perpisahan siswa kelas XII, tersaji panggung yang memberi kesempatan kepada siswa berkebutuhan khusus untuk memperlihatkan karya dan bakat mereka kepada masyarakat luas.

Puluhan siswa menampilkan berbagai pertunjukan seni dan hasil kreativitas yang mereka pelajari selama menempuh pendidikan. Penampilan tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa keterbatasan fisik maupun intelektual menjadi penghalang untuk berprestasi.

IKLAN

Wakil Bupati Lobar, Nurul Adha mengatakan, anak berkebutuhan khusus memiliki potensi yang sama untuk berkembang. Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada kemampuan anak, melainkan pada ketersediaan ruang dan dukungan yang mereka terima.

“Anak-anak istimewa memiliki kemampuan luar biasa yang harus terus didukung dan difasilitasi,” ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis 18 Juni 2026.

Ia menilai, pendidikan inklusif harus memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk mengembangkan bakat dan keterampilannya. Karena itu, sekolah luar biasa tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar. Sekolah juga berperan membangun kepercayaan diri dan kemandirian peserta didik.

IKLAN

“Acara ini menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan hasil pembelajaran mereka kepada masyarakat. Anak- anak  tampil sebagai pelaku utama yang menunjukkan kemampuan mereka secara langsung,” tambahnya.

Kondisi tersebut penting mengingat penyandang disabilitas masih sering menghadapi stigma dan keterbatasan akses di berbagai bidang. Padahal banyak dari mereka memiliki kemampuan seni, keterampilan, dan kreativitas yang mampu bersaing apabila memperoleh kesempatan yang sama.

Tingkatkan Kepercayaan Diri

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lobar, Syarif Khalili menilai, kegiatan seperti ini dapat memperkuat kepercayaan diri peserta didik.

“Kegiatan ini membuka ruang interaksi yang lebih luas antara siswa berkebutuhan khusus dengan masyarakat,” ujarnya.

Prosesi pelepasan siswa kelas XII SLBN 1 Lobar berlangsung penuh haru. Namun, di balik perpisahan itu tersimpan tantangan yang lebih besar.

“Mereka akan memasuki kehidupan baru yang membutuhkan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, pemerintah, dan lingkungan sekitar,” tambahnya.

Gebyar Budaya Literasi tidak sekadar menjadi agenda tahunan sekolah. Kegiatan itu menjadi pengingat bahwa pendidikan inklusif bukan hanya soal akses masuk sekolah.

Pendidikan inklusif juga memastikan setiap anak memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan dan meraih masa depan yang mereka cita-citakan. (*)

Artikel Terkait