Kreator Konten Soroti Ketimpangan Sosial di Lingkar Tambang Sumbawa
Mataram (NTBSatu) – Pasangan kreator konten sekaligus penjelajah, John dan Riana yang populer melalui kanal YouTube “Jajago Keliling Indonesia” membagikan pengalamannya saat berkunjung ke wilayah tambang emas di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2024 lalu.
Dalam sebuah video siniar, mereka mengungkapkan adanya ketimpangan fasilitas yang sangat mencolok. Perbedaan ini sangat terlihat antara kompleks internal korporasi tambang dan keadaan permukiman warga lokal di sekitarnya.
“Jalan yang aku lewati itu penuh debu dan kumuh. Kanan-kiri itu banyak sekali kos-kosan dari tripleks dan seng. Itu menurutku tidak manusiawi, padahal harga sewanya mahal,” ujarnya di YouTube Risyad and Son pada Kamis, 3 Juli 2026.
Menurut pengamatan mereka, kawasan di luar area tambang cenderung padat, berdebu, dan kurang tertata dengan baik. Aktivitas ekonomi masyarakat seperti warung gorengan pinggir jalan harus berhadapan langsung dengan debu jalanan akibat mobilitas kendaraan tinggi.
Kemewahan Eksklusif di Dalam Tambang
Keadaan tersebut sangat berbeda saat melihat fasilitas yang berada di dalam area konsesi tambang emas Sumbawa. John mengungkapkan, area internal tambang justru menyimpan fasilitas publik yang sangat modern dan serba lengkap.
Mereka menemukan keberadaan fasilitas kesehatan premium seperti Rumah Sakit Siloam, jaringan perbankan yang berjalan lancar, hingga akomodasi penginapan yang sangat mewah.
Kemewahan di dalam lingkar industri ini mencakup hotel supermewah dengan tarif sekitar mencapai belasan juta per malam. Selain itu, terdapat juga keberadaan bandara pribadi.
Di samping itu, Riana menambahkan tulisan petunjuk di beberapa fasilitas tersebut menggunakan bahasa Mandarin secara penuh. Keberadaan akomodasi kelas atas ini menegaskan standar hidup sangat tinggi namun hanya dinikmati secara terbatas oleh kalangan tertentu.
Akses Tertutup Bagi Warga Lokal
Ironi terbesar dari ketimpangan ini terletak pada pembatasan akses fasilitas yang sangat ketat bagi masyarakat umum. Meski berada di alam area tambang, masyarakat lokal yang tinggal di luar pagar pembatas tidak bisa mengaksesnya secara bebas.
Fasilitas seperti hotel mewah, rumah sakit modern, dan bandara pribadi tersebut menerapkan sistem pengamanan khusus. Siapa pun yang ingin masuk harus memiliki kartu akses resmi yang hanya dipegang para pekerja atau pihak korporasi tambang.
Kebijakan ini menciptakan sekat sosial yang nyata, di mana kemewahan industri eksklusif hidup berdampingan secara langsung dengan realitas sosial ekonomi masyarakat sekitar yang masih berjuang di lingkungan kumuh. (*)




