Lombok TimurPariwisata

Dedalpak: Ketika Bekas Tambang Menjelma Tempat Wisata

Lombok Timur (NTBSatu) – Langkah kaki pengunjung kini silih berganti menyusuri hamparan pasir putih Pantai Dedalpak di Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Mereka datang untuk berfoto, menikmati matahari sore, atau sekadar menyaksikan bentang pasir yang membuat Pantai Dedalpak viral dalam beberapa pekan terakhir.

Sedikit yang mengetahui, belasan tahun lalu kawasan yang sama bukanlah tempat wisata. Dedalpak justru menjadi arena perlawanan warga terhadap aktivitas tambang pasir besi yang mengubah wajah pesisir.

Bagi masyarakat setempat, hamparan pasir yang kini menjadi latar swafoto ribuan orang itu bukan terbentuk secara alami. Selama bertahun-tahun perusahaan mengeruk pasir besi di kawasan pesisir. Aktivitas itu menyisakan bukit-bukit pasir yang kini menjadi ikon Pantai Dedalpak.

IKLAN

Aktivis pemuda setempat, Muhammad Takdir mengatakan, hamparan pasir yang kini menjadi daya tarik wisata merupakan material sisa setelah kandungan pasir besinya dipisahkan menggunakan alat magnet.

“Yang kita pijak sekarang ini sebenarnya sisa filterisasi pasir besi. Kandungan besinya sudah diambil, sedangkan material sisanya menumpuk menjadi seperti sekarang,” ujarnya, kemarin.

Awal Mula Terciptanya Gurun Pasir

Takdir menuturkan, kisah Dedalpak bermula jauh sebelum kawasan itu viral. Sekitar 2008 hingga 2009, isu rencana penambangan pasir besi mulai menyebar di tengah masyarakat. Kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan memicu gelombang penolakan dari warga.

IKLAN

Aksi demonstrasi berlangsung berulang kali. Bentrokan dengan aparat pun tak terhindarkan. Bahkan, menurut Takdir, bupati yang saat itu datang menemui warga sempat mendapat penolakan hingga meninggalkan lokasi.

Namun, penolakan itu tidak menghentikan rencana pertambangan. Pada 2011, izin usaha pertambangan tetap diterbitkan.

Sejumlah tokoh masyarakat kemudian menggagas pemanfaatan kawasan bekas tambang sebagai destinasi wisata karena mereka tidak lagi mampu menghentikan aktivitas pertambangan.

Usulan itu mendorong Bupati membentuk sebuah komite melalui Surat Keputusan (SK) Bupati.Takdir mengaku ikut terlibat sebagai pengurus komite tersebut.

Dalam perjalanannya, rencana reklamasi tidak pernah berjalan sesuai harapan. Aktivitas pertambangan terus berlangsung. Warga kembali turun ke jalan, menghadang pengangkutan material, hingga mempersoalkan perusahaan yang menjual limbah tambang ke luar kawasan.

“Selama bertahun-tahun masyarakat hanya menjadi penonton. Yang tersisa untuk kami justru bekas-bekas tambang ini,” kata Takdir.

Waktu Mengubah Arah Cerita

Setelah izin pertambangan berakhir, masyarakat mulai memanfaatkan bentang pasir yang tersisa. Lapak-lapak sederhana bermunculan. Pedagang, penyedia jasa parkir, hingga penyewa kuda mulai menghidupkan kawasan tersebut.

Popularitas Dedalpak pun melonjak setelah foto-fotonya beredar luas di media sosial. Hamparan pasir yang dahulu menjadi simbol konflik kini justru menjadi magnet wisata baru di Lombok Timur.

Bagi Takdir, kondisi itu merupakan cara masyarakat mengambil manfaat dari kenyataan yang sudah tidak bisa diubah.

“Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana bubur itu kita beri santan supaya bisa dinikmati masyarakat. Sekarang kawasan ini bisa menjadi tempat UMKM, pedagang, dan warga mencari penghasilan,” ujarnya.

Dedalpak hari ini memang menghadirkan wajah yang berbeda. Namun, di balik ramainya wisatawan yang datang berburu foto, kawasan itu menyimpan sejarah panjang tentang perjuangan warga mempertahankan ruang hidupnya.

Kini, wisatawan menikmati hamparan pasir putih Dedalpak. Namun, sedikit yang mengetahui bahwa kawasan itu lahir dari jejak panjang konflik dan perjuangan warga. (*)

Artikel Terkait