Tumpukan Sampah Kiriman Hulu Masih Hantui Kali Gedur Ampenan Selatan
Mataram (NTBSatu) — Penanganan tumpukan sampah di Kali Gedur, kawasan perbatasan Kelurahan Banjar dan Ampenan Selatan, Kota Mataram, terus berulang tanpa penyelesaian tuntas.
Meski warga dan pihak terkait kerap menggelar aksi pembersihan, muara di dekat Pantai Gading ini terus menerima sampah kiriman dari kawasan hulu sungai.
Pasang Laut dan Sedimentasi Parah
Fenomena pasang air laut kian memperparah kondisi setempat. Aliran ombak menggulung balik berbagai material sampah ke daratan. Sampah tersebut kemudian bercampur dengan tebalnya sedimentasi serta endapan lumpur di dasar sungai.
Camat Ampenan, Erma Suryani, mengonfirmasi bahwa derasnya aliran air dari kawasan atas menjadi penyumbang terbesar kerusakan lingkungan di wilayah hilir.
“Kami masih menerima sampah kiriman dari hulu. Saat air laut pasang, gelombang mengembalikan sampah ke muara. Selain itu, endapan lumpur dan sedimentasi di dasar sungai juga cukup tebal,” ujarnya, Jumat, 14 Agustus 2026.
Jaring Sampah Terganjal Pengawasan
Pihaknya sempat mengkaji rencana pemasangan jaring penahan sampah di batas antarkelurahan. Namun, kendala operasional di lapangan mengganjal gagasan teknis tersebut karena membutuhkan pengawasan penuh dari petugas secara berkala.
“Kami sempat mengusulkan penggunaan jaring antarkelurahan. Namun, langkah ini tidak maksimal karena memerlukan petugas yang berjaga secara khusus. Jika petugas terlambat mengangkat jaring, sampah justru meluber ke jalan dan permukiman warga,” jelasnya.
Andalkan Pembersihan Manual dan Kesadaran Warga
Akibatnya, pihak kecamatan masih mengandalkan pengangkutan sampah secara manual. Pada aksi gotong royong terbaru bersama warga dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Mataram, petugas mengevakuasi sedikitnya dua armada truk sampah dalam dua hari pertama penanganan.
Meski pembenahan sistem drainase sejak 2022–2023 telah menekan risiko luapan air ke rumah warga, penanganan sampah hulu ke hilir tetap memerlukan komitmen bersama.
Pihak kelurahan terus menggalakkan pendekatan persuasif, mulai dari menyampaikan imbauan lewat mimbar masjid hingga memfasilitasi kelompok masyarakat di sekitar kolam retensi Karang Buyuk dengan jaring sederhana.
“Masyarakat tidak bisa membebankan masalah ini kepada pemerintah saja. Perlu ada perubahan mindset masyarakat, baik yang tinggal di hulu maupun hilir. Warga sekitar harus ikut bertanggung jawab, saling menegur, dan tidak sekadar menjadi penonton,” tuturnya. (Japriani)




