Tim Pengabdian Arsitektur Unram Sosialisasikan Arah Revitalisasi Kota Tua Ampenan
Mataram (NTBSatu) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Arsitektur Universitas Mataram (Unram) menggelar sosialisasi revitalisasi Kota Tua Ampenan. Kegiatan berlangsung di Kantor Lurah Ampenan Tengah pada Rabu, 15 Juli 2026.
Tim mengangkat tema “Sosialisasi Penilaian Awal Revitalisasi Berkelanjutan Kawasan Kota Tua Ampenan dalam Kesesuaian dengan SDGs.”
Dosen Arsitektur Unram sekaligus Ketua Tim Pengabdian, Liza Hani mengatakan, kegiatan menyasar masyarakat kawasan Kota Tua Ampenan. Tim juga melibatkan pelaku aktivitas ekonomi lokal yang berkaitan langsung dengan kehidupan kawasan.
Liza menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari diseminasi hasil kajian tim. Tim menyampaikan kondisi, potensi, dan berbagai isu terkait revitalisasi Kota Tua Ampenan.
Penyampaian materi menggunakan berbagai bahan visual, termasuk pemetaan kondisi dan potensi kawasan. Tim juga mengaitkan hasil kajian dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Menurut Liza, revitalisasi kota tua tidak cukup hanya memperbaiki kondisi fisik.
“Revitalisasi kawasan kota tua perlu mempertimbangkan beberapa aspek secara bersamaan, seperti nilai sejarah, karakter arsitektur, kehidupan sosial masyarakat, aktivitas ekonomi lokal, serta keberlanjutan lingkungan kawasan,” jelasnya kepada NTBSatu, Kamis, 24 September 2026.
Karena itu, masyarakat mendapat ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka. Tim membuka diskusi dan sesi tanya jawab selama kegiatan berlangsung. Forum tersebut memungkinkan masyarakat menyampaikan kondisi kawasan berdasarkan aktivitas sehari-hari.
Libatkan 25 Peserta
Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut. Peserta berasal dari masyarakat dan pihak yang berkaitan dengan kehidupan kawasan Ampenan Tengah.
Tim menilai masyarakat memiliki pengalaman langsung terhadap kondisi kawasan. Pengalaman tersebut mencakup kehidupan sehari-hari, aktivitas sosial, hingga kegiatan ekonomi.
Tim juga mengukur pemahaman peserta melalui pre-test dan post-test. Sebanyak 15 peserta aktif mengisi kedua evaluasi tersebut.
Rata-rata nilai pre-test peserta mencapai 88,38 persen. Sementara itu, rata-rata nilai post-test mencapai 88,57 persen.
Perubahan nilai tersebut relatif kecil karena pemahaman awal peserta sudah cukup tinggi. Karena itu, tim tidak menempatkan kegiatan sebagai pembelajaran dasar bagi masyarakat. Tim lebih menekankan kegiatan sebagai media diseminasi dan penguatan pemahaman.
Kaitkan Revitalisasi dengan SDGs
Tim Arsitektur Unram juga mengaitkan hasil kajian dengan sejumlah tujuan SDGs. Tim menyoroti SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, tim mengaitkannya dengan SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan. Tim juga memasukkan SDG 17 yang menekankan pentingnya kemitraan. Liza mengatakan pendekatan tersebut memperluas makna revitalisasi Kota Tua Ampenan.
“Masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi mengenai kondisi kawasan, tetapi juga memahami bahwa revitalisasi Kota Tua Ampenan merupakan proses yang berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat di dalamnya,” kata Dosen lulusan Universitas Brawijaya, Malang tersebut.
Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian dari proses revitalisasi. Karena itu, hasil kajian tidak berhenti pada pemetaan kondisi kawasan.
Dorong Basis Pengetahuan Bersama
Tim berharap kegiatan tersebut menghasilkan basis pengetahuan bersama mengenai arah revitalisasi kawasan. Kajian yang disampaikan mencakup penilaian awal kondisi dan potensi kawasan.
Tim juga menyusun peta tematik kondisi eksisting dan potensi kawasan. Selain itu, tim membuat matriks keterkaitan revitalisasi dengan sejumlah tujuan SDGs.
Hasil kajian tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan rekomendasi tindak lanjut. Rekomendasi mencakup pemutakhiran basis data kawasan.
Tim juga mendorong pelestarian karakter dan identitas sejarah Kota Tua Ampenan. Peningkatan kualitas ruang publik turut masuk dalam rekomendasi tersebut.
Tim juga menyoroti penguatan ekonomi lokal dan dokumentasi sejarah masyarakat. Selain itu, tim mendorong penguatan partisipasi masyarakat dalam proses revitalisasi.
Revitalisasi Jangan Menghapus Identitas
Tim Arsitektur Unram juga mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam revitalisasi kawasan. Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku usaha.
Pendekatan tersebut penting agar revitalisasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Tim berharap hasil kajian dapat menjadi bahan komunikasi dan pertimbangan program berikutnya.
Dengan demikian, revitalisasi Kota Tua Ampenan dapat menjaga karakter dan identitas kawasan. Revitalisasi juga diharapkan tetap mempertahankan keberlanjutan kehidupan masyarakat di dalamnya. (*)




