Kota MataramPariwisata

Tiga Sektor Ekraf Kota Mataram Raup Omset Jadi Potensi Miliaran

Mataram (NTBSatu) – Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram memetakan tiga sektor Ekonomi Kreatif (Ekraf) unggulan yang memicu produktivitas pundi-pundi rupiah.

Tiga subsektor tersebut, yakni kriya, kuliner, dan fesyen kini menjadi fokus utama karena menyimpan potensi perputaran omset raksasa hingga miliaran rupiah.

Untuk mengukur kontribusi riil ketiganya terhadap ekonomi daerah, Dispar Kota Mataram menargetkan penuntasan data omset para pelaku usaha kreatif ini tuntas seluruhnya pada akhir tahun.

IKLAN

Tiga Mesin Utama Ekraf Kota Mataram

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Cahya Samudra, memaparkan langkah pembinaan dan pendataan tahunan ini menyasar tiga pilar utama penarik minat wisatawan. Ada Sektor Kriya (Kerajinan), mengandalkan produk legendaris bernilai seni tinggi seperti Cukli (ukiran kayu khas Lombok dengan hiasan kulit kerang).

“Produk ini memiliki pasar khusus yang loyal dan bernilai jual tinggi, ujar Cahya, Rabu, 15 Juli 2026.

Sektor Kuliner, menjadi subsektor paling komplet se-Nusa Tenggara Barat (NTB). Kekuatannya bertumpu pada inovasi produk lokal. Contohnya, transformasi kopi konvensional menjadi varian modern seperti kopi latte, kopi rasa buah, hingga konsep kopling (kopi keliling).

IKLAN

Sektor fesyen bertumpu pada industri pakaian dan kain lokal yang terus bergerak dinamis mengikuti tren pasar serta selera modern.

Potensi Omset Tembus Puluhan Miliar

Meskipun saat ini Bidang Pengembangan Dispar Kota Mataram baru akan turun ke lapangan guna menghimpun data riil. Cahya sangat optimistis angka akumulasi omset dari ketiga sektor ini sangat fantastis.

Melimpahnya jumlah pelaku usaha kreatif wilayah Mataram menjadi alasan kuat atas proyeksi tersebut.

“Kalau omset dari sektor keseluruhan, saya yakin melampaui Rp1 miliar. Jumlah UMKM kita sangat banyak, jadi kalau kita akumulasikan nilainya bisa mencapai miliaran atau bahkan puluhan miliar rupiah,” ungkap Cahya.

Lebih lanjut, Cahya mengatakan pelaku ekraf pada ketiga sektor ini bukan lagi sekadar UMKM biasa. Mereka merupakan unit usaha yang sudah “naik kelas” berkat sentuhan nilai inovasi dan kebaruan pada produknya.

Hal inilah yang membuat ekraf menjadi jembatan krusial bagi industri pariwisata Mataram.

“Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati pemandangan atau hiburan, melainkan juga tergerak membelanjakan uang mereka untuk membawa pulang produk lokal yang unik serta bernilai jual tinggi,” pungkas Cahya. (*)

Artikel Terkait