Rebut 50 Kuota Kerja ke Jepang, 179 Peserta Program PRIMA Masuki Tahap Pembinaan
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Sebanyak 179 pemuda Kabupaten Sumbawa Barat yang lolos seleksi administrasi mulai bersaing memperebutkan 50 kuota kerja ke Jepang.
Jumlah tersebut menyisihkan puluhan pendaftar lain dalam Program Peningkatan Resiliensi dan Mutu Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Langkah strategis hasil kolaborasi bersama Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara ini resmi meluncur di Taliwang. Program ini membuka ruang pembinaan intensif bagi calon tenaga kerja daerah menuju pasar internasional.
Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, S.T., M.Si., menegaskan program kerja Jepang menjadi investasi jangka panjang membangun kualitas sumber daya manusia. Pihaknya ingin mencetak tenaga kerja daerah yang mampu bersaing ketat pada level global.
“Kami memiliki tekad menghadirkan pemerintahan yang meninggalkan warisan nyata lewat pembangunan kualitas manusia,” ujar Bupati Amar, Selasa, 4 Agustus 2026.
Lebih lanjut, Bupati menjelaskan program ini merealisasikan visi pembangunan daerah pada sektor industri dan ketenagakerjaan. Pihaknya merenovasi fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) serta menyelaraskan kurikulum sesuai standar industri internasional.
“Kami ingin anak-anak Sumbawa Barat berangkat sebagai tenaga kerja profesional berlisensi dan terampil,” ujarnya.
Siapkan 50 Kuota
Mengenai kuota, pemerintah daerah menyiapkan sebanyak 50 kursi peserta untuk mengikuti pembinaan intensif tahap awal. Pihaknya menargetkan penambahan jumlah kuota peserta hingga dua kali lipat pada pelaksanaan angkatan berikutnya.
“Keberhasilan angkatan pertama menjadi pijakan utama memperluas jangkauan program pada tahun-tahun mendatang,” tuturnya.
Kepala Dinas Transmigrasi KSB, Slamet Riadi, membeberkan peserta lolos akan menjalani pembinaan daring selama sebulan. Pihaknya menguji tingkat kedisiplinan, komitmen, serta kesiapan calon pekerja sebelum melangkah ke pelatihan lanjutan.
“Program ini memberikan kepastian informasi peluang kerja sekaligus membentuk kesiapan mental calon pekerja,” kata Slamet.
Perwakilan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara, Wiwik Farida menilai, Jepang menjadi negara tujuan ideal. Budaya kerja di negeri sakura mampu membentuk karakter pekerja yang disiplin, produktif, dan profesional.
“Program ini menjadi kesempatan emas generasi muda Sumbawa Barat menembus pasar kerja global,” tambah Wiwik.
Dengan demikian, sinergi lintas lembaga ini membangun fondasi kokoh lahirnya tenaga kerja daerah yang unggul. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) KSB optimistis kelanjutan program ini meningkatkan daya saing warga Sumbawa Barat di tingkat internasional. (*)




