Data BPS Ungkap Tantangan bagi Lulusan SMK di KSB
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa Barat merilis data ketenagakerjaan kondisi Agustus 2025. Lembaga ini memotret tingkat pengangguran berdasarkan jenjang pendidikan warga.
Hasil survei menunjukkan angka pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menempati posisi tertinggi. Tingkat pengangguran terbuka lulusan jenjang tersebut menembus 10,27 persen.
Angka pengangguran tersebut melampaui rata-rata tingkat pengangguran daerah Sumbawa Barat. Rata-rata pengangguran daerah saat ini berada pada angka 4,13 persen.
Kepala BPS Sumbawa Barat, Ni Ketut Alit Rahayu Hendrayani, menyampaikan penjelasan mengenai temuan ini mengenai alasan utama penyebab tingginya angka pengangguran lulusan kejuruan.
“Lulusan sekolah kejuruan menyumbang angka pengangguran terbanyak tahun ini, pasar kerja lokal belum mampu menampung seluruh lulusan vokasi,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 4 Agustus 2026.
Lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) menempati posisi kedua dengan angka 5,88 persen. Kelompok lulusan perguruan tinggi menyumbang angka pengangguran sebesar 3,68 persen.
Penduduk berpendidikan Sekolah Dasar ke bawah mencatat tingkat pengangguran 2,28 persen. Lulusan Sekolah Menengah Pertama menyusul pada angka 2,24 persen.
Kelompok lulusan diploma justru menunjukkan kinerja penyerapan tenaga kerja yang sangat baik. Angka pengangguran lulusan jenjang diploma berhasil menyentuh angka 0 persen.
Lulusan diploma mampu menguasai pasar kerja lokal secara penuh. Keahlian lulusan diploma sangat sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Fenomena ini mengungkap masalah ketidaksesuaian antara kurikulum sekolah dan kebutuhan dunia kerja. Sekolah kejuruan belum mencetak lulusan sesuai dengan kualifikasi pasar industri daerah.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat harus mengevaluasi program keahlian pada seluruh sekolah kejuruan. Langkah ini bertujuan untuk menekan angka pengangguran usia muda wilayah ini.
Instansi terkait merancang kerja sama baru dengan perusahaan tambang dan industri lokal. Skema ini akan membuka peluang magang bagi para lulusan sekolah kejuruan.
Sektor swasta harus menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal berkualitas. Selanjutnya, sinergi semua pihak akan menyelesaikan masalah pengangguran wilayah ini. (*)




