Lombok TimurPariwisata

Jejak Wisma Soedjono, Cikal Bakal Pariwisata Tetebatu yang Bertahan Hampir Satu Abad

Lombok Timur (NTBSatu) – Tetebatu telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Lombok Timur. Hamparan sawah, udara sejuk, dan panorama Gunung Rinjani menjadi daya tarik utama desa yang beberapa kali mendapat pengakuan di tingkat internasional.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan panjang pariwisata Tetebatu, bermula dari sebuah bangunan tua bernama Wisma Soedjono.

Bangunan bergaya kolonial yang berdiri sekitar 1934 itu masih kokoh di tengah pepohonan rindang. Arsitekturnya tetap mempertahankan bentuk aslinya, lengkap dengan pintu dan jendela kayu berukuran besar.

IKLAN

Di balik bangunan yang telah berusia hampir satu abad tersebut, tersimpan kisah tentang seorang dokter lulusan STOVIA yang tanpa disadari, meletakkan fondasi awal berkembangnya pariwisata Tetebatu.

Marwan, pengelola Wisma Soedjono, menuturkan bahwa dr. Soedjono merupakan dokter berdarah Jawa, lulusan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Saat bertugas di Selong untuk menangani wabah kolera, dr. Soedjono membangun sebuah tempat singgah di Tetebatu bersama beberapa rekannya dari Belanda.

“Beliau sibuk bertugas di Selong untuk menangani kolera. Karena itu beliau memilih Tetebatu sebagai tempat beristirahat dan membangun villa di sini bersama beberapa rekannya,” ujar Marwan kepada NTBSatu.

Udara yang sejuk dan suasana pegunungan membuat Tetebatu menjadi lokasi ideal, untuk melepas penat setelah menjalankan tugas sebagai dokter. Bangunan itu kemudian menjadi tempat singgah keluarga Soedjono selama bertahun-tahun.

Cikal Bakal Pariwisata Tetebatu

Tongkat estafet pengelolaan kemudian beralih kepada putra dr. Soedjono, Raden Suweno. Di tangan Raden Suweno, tempat singgah tersebut berkembang menjadi penginapan pertama di Tetebatu pada dekade 1980-an.

“Rumah ini menjadi penginapan pertama di Tetebatu. Dari sinilah awal berkembangnya destinasi wisata di Tetebatu,” kata Marwan.

Kehadiran penginapan itu ternyata memberi dampak besar bagi masyarakat sekitar. Wisma Soedjono tidak hanya menerima tamu dari berbagai daerah, tetapi juga menjadi tempat belajar bagi banyak warga yang ingin menekuni dunia pariwisata.

Marwan mengatakan, sebagian besar pelaku usaha wisata yang kini memiliki hotel, homestay, restoran, hingga berbagai akomodasi di Tetebatu pernah bekerja di Wisma Soedjono.

“Banyak teman-teman yang sekarang punya akomodasi di Tetebatu dulu bekerja di sini. Mereka belajar melayani tamu, mengelola penginapan, lalu setelah punya pengalaman dan modal mereka membuka usaha sendiri,” ungkapnya.

Pada masa kejayaannya, Wisma Soedjono memiliki 32 kamar dan kerap menerima tamu dalam jumlah besar. Bangunan yang kini menjadi galeri dahulu berfungsi sebagai front office, sementara bangunan penginapan masih berdiri hingga sekarang meski belum kembali beroperasi.

Aktivitas Penginapan Terhenti Sejak Gempa

Gempa bumi pada 2018 dan pandemi Covid-19 menghentikan aktivitas penginapan. Sejak saat itu keluarga memilih mempertahankan operasional melalui restoran, taman, dan galeri sejarah yang kini menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.

Marwan menjelaskan, pembukaan galeri sejarah bermula dari kunjungan Ganjar Pranowo ke Wisma Soedjono pada 2023, saat menghadiri kegiatan di Tetebatu. Dalam kesempatan itu, Ganjar mendorong keluarga agar membuka bangunan bersejarah tersebut untuk masyarakat.

“Beliau menyampaikan, alangkah baiknya kalau tempat ini dibuka untuk umum supaya orang tahu siapa yang merintis pariwisata Tetebatu. Sebenarnya kami sudah punya rencana, tetapi setelah kunjungan itu kami semakin mantap membuka galeri,” jelasnya.

Pembukaan galeri bertepatan dengan momentum ketika Tetebatu mewakili Indonesia dalam ajang Desa Terindah di Dunia. Sejak saat itu, pengunjung tidak hanya datang menikmati hidangan di restoran, tetapi juga mengenal sejarah Wisma Soedjono melalui koleksi foto dan berbagai peninggalan keluarga.

Pengunjung cukup membeli makanan atau minuman di restoran untuk memasuki kawasan wisma. Sementara bagi yang ingin berfoto di area galeri dan taman, pengelola mengenakan biaya reservasi sebesar Rp10 ribu per orang.

Taman yang terawat juga sering menjadi lokasi resepsi pernikahan dan berbagai acara keluarga.

Meski penginapan belum kembali beroperasi, keluarga tetap menjaga bangunan bersejarah tersebut agar tetap lestari. Bagi Marwan, Wisma Soedjono bukan sekadar aset keluarga, melainkan bagian penting dari sejarah Tetebatu.

“Kalau melihat Tetebatu sekarang berkembang dengan banyak penginapan, kami bersyukur karena semuanya berawal dari sini. Wisma Soedjono menjadi tempat orang belajar sebelum akhirnya mereka membangun usaha wisata sendiri,” tutupnya. (*)

Artikel Terkait