Tekan Risiko Banjir, Pemkot Bima Bedah Sistem Drainase Perkotaan
Kota Bima (NTBSatu) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bima mempercepat langkah pembenahan infrastruktur drainase utama perkotaan dan penguatan ketahanan air daerah.
Melalui program Nusantara Urban Flood Resilience Project (NUFReP), Pemkot Bima berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk memastikan sistem pengelolaan air di wilayah urban berjalan lebih baik dan berkelanjutan.
Fokus utama program ini adalah mentransformasi sistem drainase perkotaan agar Kota Bima lebih tangguh menghadapi risiko banjir dan krisis air. Kesiapan teknis serta koordinasi antarinstansi menjadi kunci agar target fisik dan dampak lingkungan program NUFReP tercapai tepat waktu.
Sekretaris Daerah Kota Bima, Muhammad Fakhrunraji, menegaskan komitmen daerah dalam mengawal proyek strategis nasional ini. Ia mengatakan, Pemkot Bima siap untuk memastikan penguatan infrastruktur drainase secara menyeluruh. Termasuk pengelolaan air perkotaan yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat.
“Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini sangat krusial. Kami ingin memastikan penguatan infrastruktur drainase tidak hanya menyelesaikan masalah luapan air saat hujan. Tetapi juga mewujudkan pengelolaan air perkotaan yang berkelanjutan dan dampaknya langsung bagi masyarakat,” ujar Fakhrunraji pada Rabu, 16 September 2026.
Libatkan Sejumlah Pihak
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Wilayah III Direktorat Sungai dan Pantai Kementerian PUPR, Achmad Zubaidi menjelaskan, pihaknya melakukan pengawasan ketat terhadap NUFReP ini agar memastikan seluruh perencanaan teknis di lapangan matang.
“Program NUFReP di Kota Bima ini menyasar penataan drainase utama dan penguatan ketahanan air. Kami turun langsung memantau dan mengawal setiap tahapan agar persiapan maupun pelaksanaan teknis di daerah. Agar tetap berjalan sesuai target ketahanan wilayah yang dirancang,” kata Zubaidi.
Pelaksanaan NUFReP di Kota Bima melibatkan lintas sektor, mulai dari dinas teknis tingkat daerah hingga Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara. Kolaborasi ini mencakup sejumlah aspek penting. Di antaranya seperti penyiapan lahan, pembagian kewenangan aset, hingga integrasi tata ruang antara sistem drainase primer dan sekunder.
Lewat penguatan drainase utama ini, Kota Bima mengantisipasi ancaman cuaca ekstrem sekaligus membangun ketahanan air jangka panjang bagi warga kota. (*)




