Lewat Wisata Arsip Interaktif, NTB Ingin Sejarah Tak Lagi Sekadar Dokumen Lama
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, menghadirkan konsep baru dalam mengenalkan sejarah daerah kepada masyarakat lewat program Pusat Wisata Arsip Interaktif. Program tersebut untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap arsip yang selama ini identik dengan dokumen lama dan membosankan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Ashari mengatakan, wisata arsip hadir sebagai sarana melestarikan memori kolektif daerah. Sekaligus memperkuat literasi sejarah masyarakat, terutama generasi muda.
“Arsip selama ini sering dianggap hanya dokumen lama. Padahal, di dalamnya tersimpan pengetahuan, identitas, dan perjalanan budaya daerah,” ujarnya kepada NTBSatu, Senin, 18 Mei 2026.
Menurutnya, konsep wisata arsip tidak hanya menghadirkan benda atau dokumen sejarah, tetapi juga menggabungkan unsur seni, visual, dan teknologi modern. Agar pengunjung dapat merasakan pengalaman belajar sejarah yang lebih hidup dan interaktif.
“Melalui arsip, pengunjung diajak menelusuri perjalanan NTB dari masa kesultanan, perjuangan pascakemerdekaan, hingga perkembangan pariwisata modern. Sehingga tumbuh rasa bangga, cinta daerah, dan kesadaran akan pentingnya menjaga memori kolektif bangsa,” katanya.\
Tiga Segmen Wisata Arsip Interaktif NTB
Wisata Arsip Interaktif terbagi menjadi tiga segmen utama. Segmen pertama mengangkat masa sebelum kemerdekaan yang menampilkan jejak Kesultanan Selaparang, Sumbawa, dan Bima melalui arsip kerajaan, naskah lontar, hingga peta kolonial.
Segmen kedua menampilkan perjalanan NTB setelah kemerdekaan, mulai dari proses pembentukan provinsi, pembangunan daerah, hingga dokumentasi tokoh-tokoh penting NTB.
Sementara segmen ketiga menampilkan perkembangan pariwisata NTB dari masa ke masa. Termasuk, arsip promosi wisata Lombok-Sumbawa, dokumentasi KEK Mandalika, hingga MotoGP Mandalika 2022.
Ashari menjelaskan, pihaknya membuat penyajian arsip lebih menarik agar masyarakat tidak merasa bosan ketika belajar sejarah. “Arsip dibagi menjadi tiga babak/segi, disajikan lewat cerita, visual, dan media yang memancing rasa ingin tahu, tidak sekadar pajangan diam,” jelasnya.
Ia berharap, wisata arsip tersebut dapat berkembang menjadi pusat edukasi sejarah sekaligus destinasi wisata budaya baru di NTB.
“Semoga menjadi pusat rujukan sejarah yang membuka wawasan masyarakat. Sekaligus, menjadi objek wisata unggulan yang memperkenalkan kekayaan budaya dan sejarah NTB kepada wisatawan untuk NTB mendunia,” tutupnya. (Caca)




