Prabowo Serukan Reformasi PBB di KTT BRICS: Harus Lebih Tanggap
Jakarta (NTBSatu) – Presiden Prabowo Subianto menyinggung peran Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB saat menghadiri KTT ke-18 BRICS 2026 di India.
KTT ke-18 BRICS 2026 berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu, 12 September 2026. Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin turut menghadiri KTT tersebut.
Tak hanya itu, sejumlah kepala negara dan pemerintahan dari negara-negara belahan bumi selatan juga menghadiri KTT tersebut.
“Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, BRICS mewakili separuh dari seluruh umat manusia. Serta porsi besar dari ekonomi dan perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-pasar terbesar dunia dan produsen energi utama. Hal ini memberikan kita kekuatan kolektif yang luar biasa,” kata Prabowo mengutip video YouTube Sekretariat Presiden.
Selain itu, Prabowo menilai BRICS dapat menciptakan peluang lebih besar bagi negara-negara berkembang.
Menurut dia, peluang itu muncul jika negara-negara tersebut menghubungkan pasar, modal, sumber daya, teknologi, dan pengetahuan dengan lebih baik.
“Bayangkan jika negara-negara di belahan bumi selatan dapat berbicara dengan lebih percaya diri dan lebih terkoordinasi dalam membentuk lembaga-lembaga yang mengatur dunia kita. Dalam melindungi dan meningkatkan perdamaian dan dalam memperjuangkan keadilan,” ujar Prabowo.
Prabowo menilai pencapaian tujuan tersebut dapat mendukung negara-negara maju dan berkembang.
Ajak Bangun Sistem Multilateral
Untuk mencapai cita-cita itu, Prabowo ingin menempatkan PBB sebagai pusat sistem multilateral. Menurutnya, PBB menjadi forum berkumpulnya seluruh negara di dunia.
“Bersama-sama, kita dapat membangun sistem multilateral yang lebih kuat yang mendukung kebutuhan dan kepentingan semua bangsa. Baik besar maupun kecil, kuat maupun lemah. Agar upaya ini berhasil, kita harus menempatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai pusat dari sistem tersebut,” ucapnya.
Namun, Prabowo memberikan catatan, bahwa PBB harus direformasi untuk menjalankan peran yang efektif. Sehingga, PBB dapat lebih tanggap dan berdampak bagi seluruh masyarakat dunia.
“Sebab, PBB tetap menjadi satu-satunya institusi multilateral tempat semua bangsa berkumpul sebagai pihak yang setara. Dan agar PBB dapat menjalankan peran sentralnya secara efektif, institusi ini harus direformasi. PBB harus menjadi lebih representatif, lebih tanggap, dan lebih mampu memberikan hasil nyata bagi masyarakat kita,” imbuhnya. (*)




