Pengelola Bukit Pergasingan Siapkan Deposit Sampah, Pendaki Wajib Bawa Pulang Limbah
Lombok Timur (NTBSatu) – Pengelola Bukit Pergasingan menyiapkan aturan baru bagi setiap pendaki, setelah viral video wisatawan asing yang menyoroti persoalan sampah di kawasan Sembalun.
Pengelola tidak hanya menutup sementara jalur pendakian, tetapi juga menyusun sistem pengelolaan sampah yang lebih ketat agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Pengelola Bukit Pergasingan, Royal mengatakan, pihaknya memanfaatkan masa penutupan untuk mengevaluasi seluruh sistem pengelolaan destinasi.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi titik balik untuk memperbaiki aturan sekaligus menunjukkan komitmen menjaga alam.
Royal mengaku tidak membantah masih adanya sampah. Namun, ia menjelaskan wisatawan asing yang videonya viral sebenarnya tidak hanya melihat sampah di Bukit Pergasingan.
Wisatawan itu juga berkeliling kampung dan menemukan sampah di sungai, sawah, hingga sejumlah sudut permukiman di Sembalun.
“Kami sempat berkomunikasi langsung dengannya. Dia kecewa karena melihat sampah di banyak tempat, bukan hanya di Pergasingan,” ujarnya, Kamis, 30 Juli 2026.
Kondisi itu mendorong pengelola mengambil langkah yang lebih tegas. Royal menilai, destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan imbauan kepada pendaki.
Pengelola harus membangun sistem yang mampu mendorong setiap pengunjung bertanggung jawab, terhadap sampah yang mereka bawa.
Karena itu, pengelola segera menerapkan sistem deposit sampah. Petugas akan memeriksa seluruh barang bawaan sebelum pendaki memasuki jalur. Setelah itu, setiap pendaki atau rombongan harus menyetorkan uang jaminan yang akan kembali saat mereka membawa turun seluruh sampah.
“Kalau semua sampah kembali, kami kembalikan depositnya. Kalau ada yang tertinggal di atas, depositnya hangus atau kami potong sesuai jumlah sampah yang tidak dibawa turun,” jelasnya.
Pengemasan Ulang Logistik
Selain deposit, pengelola juga menyiapkan sistem repacking atau pengemasan ulang logistik. Petugas akan membuka kemasan makanan yang berpotensi menjadi sampah sebelum pendaki memulai perjalanan.
Royal mencontohkan, pendaki yang membawa mi instan hanya boleh membawa isi dan bumbunya. Petugas akan menahan bungkus mi di pos pendakian.
Pengelola juga melarang pendaki membawa sampah berukuran kecil seperti bungkus permen karena jenis sampah itu paling sering tertinggal di jalur.
Menurut Royal, pengelola sebenarnya sudah memeriksa barang bawaan pendaki sejak persoalan sampah mencuat. Namun, aturan itu belum memberikan hasil maksimal karena tidak disertai sanksi.
“Kami cek barang bawaan saat naik, tetapi kami tidak memberi punishment saat mereka turun. Evaluasi kami menunjukkan aturan tanpa sanksi sulit dipatuhi. Karena itu kami siapkan sistem deposit,” ujarnya.
Royal memastikan pengelola belum menentukan waktu pembukaan kembali Bukit Pergasingan. Saat ini, mereka masih menyelesaikan seluruh butir aturan agar sistem baru benar-benar siap sebelum menerima pendaki.
Di sisi lain, pengelola juga akan membatasi jumlah pendaki berdasarkan daya dukung kawasan. Royal mengatakan pembatasan itu bukan untuk memilih siapa yang boleh mendaki, melainkan menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus melindungi lingkungan.
Ia menyebut tim akademisi pernah menghitung daya dukung Bukit Pergasingan. Hasil kajian itu menunjukkan kawasan tersebut idealnya menampung sekitar 550 orang dalam satu waktu.
“Kalau pengunjung melebihi daya dukung, kualitas wisata ikut turun. Karena itu kami akan menyesuaikan jumlah pendaki dengan kapasitas kawasan,” tutup Royal. (*)




