Lombok Timur

Kecelakaan di Rinjani, Satu Meninggal dan Satu Alami Cedera

Mataram (NTBSatu) – Dua insiden beruntun menimpa pendaki dalam kurun waktu 24 jam di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), pada Kamis sore, 14 Mei 2026 dan Jumat dini hari, 15 Mei 2026.

Dalam peristiwa tersebut, seorang pendaki asal Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan meninggal dunia. Sedangkan pendaki lainnya asal Riau mengalami patah tulang kaki setelah terjatuh.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, membenarkan peristiwa kecelakaan beruntun yang menimpa para pendaki tersebut.

IKLAN

“Iya benar (kejadiannya),” katanya pada NTBSatu, Jumat, 15 Mei 2026.

Berdasarkan identifikasi, korban meninggal bernama Endang Subarna (48). Merupakan seorang warga asal Sukabumi, yang sedang melakukan pendakian bersama rombongan yang berjumlah 29 orang, melalui pintu masuk Kandang Sapi.

Peristiwa bermula sekitar pukul 16.00 Wita. Saat itu korban bersama rombongannya melewati tanjakan terjal di kawasan pegunungan Bukit Penyesalan, yang mengarah ke Pos 4.

IKLAN

Saat hendak berhenti untuk beristirahat, korban mendadak ambruk dan langsung kehilangan kesadaran di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Mendapat informasi tersebut, Balai TNGR langsung mengerahkan personel dan tim medis dari Edelweis Medical Help Center (EMHC), menuju lokasi guna memberikan Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Setelah memberikan penanganan pertama, tim medis masih belum melihat tanda-tanda kesadaran, hingga korban dinyatakan meninggal dunia. Setalah itu, korban langsung dibawa menuju RSUD Selong menggunakan ambulans.

Insiden Kedua Menjelang Puncak

Belum selesai proses penanganan korban yang pertama, kecelakaan terjadi kembali pada jalur pendakian yang sama, pada Jumat, 15 Mei 2026, sekitar pukul 04.00 Wita.

Kali ini nasib nahas menimpa pendaki bernama Bolkya Ayadi (38). Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) asal Karimun, Riau.

Laporannya, korban tergelincir dan jatuh dari ketinggian sekitar 7 meter dari lokasi istirahatnya. Yaitu, di jalur menuju puncak Rinjani, atau sekitar 30 meter dari area Pos Pelawangan Sembalun.

Akibat benturan keras tersebut, korban mengalami patah tulang di bagian kaki yang cukup serius, sehingga tidak bisa berjalan secara mandiri.

Setelah mendapat informasi tersebut, tim gabungan dari TNGR, Polsek Sembalun, dan EMHC, langsung kembali bergerak untuk melakukan evakuasi.

Evaluasi Standar Kesehatan Pendaki

Deretan kecelakaan tersebut memicu perhatian serius dari pengelola. Risto kembali mengingatkan publik untuk selalu memperhatikan kesiapan fisik sebelum melakukan pendakian.

Selain itu, medan pendakian menuju Gunung Rinjani tergolong sangat ekstrem, sehingga membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang matang dari para pendaki.

Selain itu, Kepala Balai TNGR, Budhi Kurniawan, menyebut cuaca di sekitar Gunung Rinjani sering kali berubah tidak terduga, meski wilayah NTB sudah mulai memasuki musim kemarau.

Budi juga menyebut karakteristik jalur pendakian yang berat, menuntut pengelola agar lebih ketat menyeleksi kondisi kesehatan wisatawan.

“Pendakian Rinjani ini termasuk Grade 4 yang membutuhkan fisik dan mental yang sangat prima. Kami menghimbau para pendaki agar lebih jujur terhadap kondisi kesehatannya. Kedepannya, cek kesehatan mungkin harus dilakukan secara lebih ketat lagi agar insiden seperti ini tidak terulang kembali,” pungkasnya. (Inda)

Artikel Terkait

Back to top button