Joki Perempuan Sumbawa Tembus Arena Barapan Kebo, Sulastri Ingin Anak Muda Terus Jaga Tradisi
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Arena Barapan Kebo selama ini identik dengan para joki laki-laki. Namun, pandangan itu mulai berubah. Sulastri, remaja 19 tahun asal Ai Puntuk, Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, memilih turun langsung ke lintasan dan membuktikan bahwa perempuan juga mampu mengendalikan pasangan kerbau dalam tradisi khas Tanah Samawa tersebut.
Keberanian itu langsung berbuah prestasi. Sulastri berhasil meraih juara pertama pada kategori joki perempuan dalam ajang Barapan Kebo di Sirkuit Bentiu, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
Prestasi tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi. Sulastri juga membawa semangat baru agar semakin banyak perempuan dan generasi muda ikut menjaga tradisi yang telah menjadi identitas masyarakat Sumbawa.
Sulastri mengenal Barapan Kebo sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia tumbuh di tengah keluarga yang mencintai tradisi tersebut. Sang ayah rutin mengikuti berbagai kegiatan Barapan Kebo sehingga ia sering ikut menyaksikan setiap perlombaan.
“Saya sudah ikut bapak sejak kecil. Kalau tidak salah mulai kelas tiga SD saya sering ikut ke arena,” ujarnya kepada NTBSatu.
Meski akrab dengan dunia Barapan Kebo, Sulastri tidak pernah bercita-cita menjadi seorang joki. Kesempatan itu datang ketika panitia membuka pendaftaran khusus bagi peserta perempuan.
Awalnya ia sempat ragu. Namun, pamannya yang juga berprofesi sebagai joki terus memberi semangat. Dukungan keluarga kemudian menguatkan langkahnya untuk mencoba tantangan tersebut.
“Awalnya saya tidak kepikiran menjadi joki. Om saya bertanya apakah saya mau mencoba. Saya pikir tidak ada salahnya mencoba. Setelah saya setuju, bapak langsung mendaftarkan nama saya,” katanya.
Keputusan sederhana itu justru mengantarnya menjadi juara pada penampilan pertamanya sebagai joki perempuan.
Ingin Dikenal Wisatawan
Bagi Sulastri, Barapan Kebo bukan sekadar perlombaan adu cepat di lintasan. Tradisi itu mencerminkan jati diri masyarakat Sumbawa dan layak mendapat perhatian generasi muda.
Karena itu, ia berharap semakin banyak anak muda ikut mengenal sekaligus melestarikan budaya tersebut. Ia juga menilai Barapan Kebo memiliki daya tarik besar bagi wisatawan.
“Semoga Barapan Kebo terus dilestarikan supaya semakin dikenal wisatawan. Kemarin juga banyak orang luar negeri yang datang menonton. Trans7 juga pernah meliput kegiatan ini,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk menyaksikan langsung Barapan Kebo. Menurutnya, suasana arena akan memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya melihat tayangan di media sosial.
“Kita sebagai anak muda harus ikut melestarikan budaya Tanah Samawa,” ucapnya.
Keberanian Sulastri memberi warna baru bagi Barapan Kebo. Kehadirannya di lintasan menunjukkan bahwa perempuan juga mampu mengambil peran dalam menjaga tradisi. Semangat itu menjadi harapan baru agar Barapan Kebo tetap hidup, terus berkembang, dan semakin dikenal hingga tingkat nasional maupun mancanegara. (*)




