Bukan APBD, 34 Jamban Sehat Lombok Timur Dibangun dari Donasi
Lombok Timur (NTBSatu) – Sebanyak 34 jamban sehat terbangun untuk keluarga berisiko stunting di Lombok Timur. Pemerintah daerah tidak mengalokasikan APBD untuk pembangunan jamban tersebut.
Gerakan itu tumbuh dari kepedulian masyarakat melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Para orang tua asuh menyisihkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang belum memiliki fasilitas sanitasi layak.
Kepala BKKBN NTB Lalu Makripuddin mengatakan, pembangunan jamban menjadi salah satu bentuk bantuan yang diberikan orang tua asuh kepada keluarga berisiko stunting.
“Dan ini perlu dicatat, ini sumbangan dari orang tua-tua asuh yang peduli ini ya. Jadi bukan dari APBD, APBDes, APBN,” ujarnya kepada NTBSatu, Kamis, 1 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, gerakan tersebut berkembang melalui inovasi Jumat Berkah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau Jubir Genting. Masyarakat memberikan bantuan setiap Jumat kepada keluarga yang membutuhkan.
Bantuan tidak hanya menyasar pembangunan jamban. Orang tua asuh juga memberikan telur, sayuran, beras, dan bantuan nutrisi lainnya.
Makripuddin menyebut, sekitar 254 orang tua asuh saat ini terlibat dalam gerakan tersebut. Mereka membantu keluarga yang masuk kategori risiko stunting karena keterbatasan ekonomi maupun akses terhadap kebutuhan dasar.
“Jubir Genting ini inovasi yang melaksanakan kegiatan orang tua asuh memberikan bantuan kepada keluarga risiko stunting ini setiap hari Jumat,” ujarnya.
Anggaran Pemerintah Terbatas
Menurut Makripuddin, pemerintah memilih pendekatan gotong royong karena persoalan stunting membutuhkan intervensi dari banyak pihak. Pemerintah memiliki keterbatasan anggaran, sedangkan kebutuhan keluarga berisiko stunting cukup luas.
Karena itu, pemerintah mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk membantu keluarga yang membutuhkan.
“Anggaran negara terbatas. Maka kemudian diinisiasilah bagaimana menggerakkan dana dari masyarakat untuk bersama-sama mencegah stunting,” katanya.
Jamban menjadi salah satu kebutuhan yang mendapat perhatian. Makripuddin menyebut sanitasi masuk dalam faktor sensitif yang memengaruhi risiko stunting.
Keluarga yang tidak memiliki jamban sehat menghadapi persoalan sanitasi yang dapat memengaruhi kesehatan lingkungan dan pola hidup keluarga.
Karena itu, pembangunan jamban menjadi bagian dari intervensi pencegahan stunting. Pemerintah tidak hanya mendorong pemenuhan nutrisi, tetapi juga perbaikan kondisi lingkungan tempat tinggal.
“Kalau kita berhasil jambannya sehat, air minumnya sehat, airnya sehat, rumahnya layak huni, punya ventilasi yang bagus, maka insyaallah stunting akan bisa kita cegah,” ujarnya.
Di Kecamatan Suralaga, gerakan tersebut berkembang cukup luas. Dari lebih dari 400 keluarga yang masuk kategori risiko stunting, sekitar 200 keluarga kini mendapatkan bantuan.
Bantuan itu berupa nutrisi, jamban sehat, dan kebutuhan lain sesuai kondisi keluarga.
Untuk pembangunan jamban sehat, Jubir Genting mulai bergerak dalam satu hingga dua bulan terakhir. Sekitar 18 jamban sudah terbangun di Kecamatan Suralaga.
Sementara itu, Kepala DP3AKB Lombok Timur, Muksin mengatakan, total pembangunan jamban melalui intervensi orang tua asuh di Lombok Timur mencapai 34 unit.
Sebanyak 18 jamban berada di Suralaga. Sisanya tersebar di sejumlah kecamatan lain. “Dari 34 ini memang yang terbanyak kita di Suralaga sekitar 18 jamban,” kata Muksin.
Muksin mengatakan DP3AKB ikut mendorong gerakan tersebut melalui jajaran penyuluh keluarga berencana yang tersebar di 21 kecamatan.
Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah lebih banyak mendorong gerakan agar masyarakat ikut mengambil peran.
Ia mengatakan gerakan tersebut perlu terus berkembang karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menangani stunting. Keterbatasan anggaran membuat kolaborasi dengan masyarakat menjadi penting.
Muksin berharap, gerakan Jubir Genting dapat memperkuat kepedulian masyarakat terhadap keluarga yang membutuhkan.
“Dengan kondisi yang memang kita sama-sama keterbatasan anggaran, kita bersama-sama bahu-membahu untuk menyelesaikan penurunan stunting di Lombok Timur yang harus terus makin masif kita turunkan,” katanya.
Kebutuhan Dana Sekitar Rp127,5
Makripuddin menyebut, satu jamban sehat membutuhkan biaya sekitar Rp3,75 juta hingga Rp3,8 juta. Dengan biaya tersebut, jamban dapat langsung digunakan keluarga penerima.
Jika menggunakan angka rata-rata tersebut, pembangunan 34 jamban membutuhkan dana sekitar Rp127,5 juta hingga Rp129,2 juta.
Namun, dana tersebut tidak berasal dari APBD. Masyarakat yang berperan sebagai orang tua asuh menjadi sumber pembiayaan pembangunan jamban.
Makripuddin menilai, persoalan stunting menyangkut kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pencegahannya membutuhkan gerakan bersama antara pemerintah dan masyarakat. (*)




