Fasilitas SMPN 9 Pujut Mengkhawatirkan, Ancaman Atap Ambruk Hantui Guru dan Siswa
Mataram (NTBSatu) – Kondisi infrastruktur SMPN 9 Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, terlihat cukup mengkhawatirkan. Bangunan fisik bangunan sekolah tersebut membutuhkan perhatian serius dari pemerintah setempat.
Kerusakan fisik di sekolah tersebut bisa memicu ancaman nyata berupa ambruknya atap. Selanjutnya, hal ini menimbulkan rasa was-was dan mengganggu berlangsungnya proses belajar mengajar.
“Di seberang sana bangunan megah ber-AC. Tapi kami di sini merasa was-was untuk belajar dan mengajar,” mengutip akun Facebook Merry Tangkull, salah satu guru di sekolah tersebut, Jumat, 19 Juni 2026.
Kekhawatiran tersebut ini bukan sekadar bayangan kosong. Struktur bangunan yang kian melapuk dari hari ke hari telah memicu insiden fisik yang mencederai warga sekolah. “Salah seorang guru dari kami pernah tertimpa plafon,” lanjutnya.
Kerusakan Struktural yang Bisa Mengancam Jiwa
Berdasarkan rekaman video yang beredar, potret fasilitas sekolah ini terlihat sejak memasuki area halaman. Satu unit bangunan utama yang diduga ruang kelas atau aula menunjukkan kerusakan struktural.
Terlihat susunan genteng tanah liat di atapnya sudah bergeser runtuh dan menciptakan rongga besar yang menganga. Kerangka kayu penopangnya juga tampak melengkung tajam karena lapuk, membuat seluruh konstruksi atap terlihat miring seolah siap ambruk sewaktu-waktu.
Selain itu, tiang penyangga teras tampak sudah retak-retak, cat tembok mengelupas parah. Tidak hanya itu, tampak pagar seng pembatas di samping gedung sudah roboh berserakan di tanah.
Di sisi lain, keadaan serupa juga tampak pada deretan ruang kelas aktif di sekitarnya. Meskipun dari luar tampak utuh, bagian lisplang dan beberapa lembar plafon luar sudah jebol. Pintu-pintu kayu terlihat usang dengan kaca jendela yang sebagian pecah.
Sedangkan di tengah lingkungan yang gersang dan penuh dengan material rusak ini, terlihat seorang siswa berseragam pramuka, tetap harus berjalan melintas selasar yang retak untuk masuk ke kelas. Mereka terpaksa belajar di bawah bayang-bayang atap yang kapan saja bisa runtuh.
Ketimpangan di Tengah Geliat Daerah
Dampak dari fasilitas yang mengkhawatirkan ini memicu sorotan tajam mengenai ketimpangan pembangunan publik.
Keadaan ini juga menunjukkan kontrasnya kondisi sekolah tempat bernaung, dengan deru proyek infrastruktur modern berskala besar di kawasan Pujut.
Di sisi lain, mantan komite sekolah di SMPN 9 Pujut, Salimudin menegaskan, pihaknya sudah melaporkan keadaan infrastruktur ini ke pihak Dinas Pendidikan Lombok Tengah. Namun, instansi terkait membatalkan anggaran revitalisasi yang ada sebelumnya karena masalah pemberkasan.
“Iya, sudah. Bahkan sudah turun anggaran revit tapi dibatalkan,” ungkapnya kepada NTBSatu, Senin, 22 Juni 2026.(*)




