Kota Bima Petakan Pencemaran, DLH Uji Sampel Air 12 Sungai dan Udara Ambien
Kota Bima (NTBSatu) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima bergerak cepat memetakan potensi pencemaran lingkungan dengan memantau kualitas air di 12 sungai serta kualitas udara ambien di enam titik strategis. Langkah ini bertujuan untuk menghasilkan data ilmiah yang presisi sebagai fondasi kebijakan perlindungan lingkungan hidup.
Kepala DLH Kota Bima, Syahrial Nuryadin menjelaskan, dalam pelaksanaannya, UPT Laboratorium Lingkungan DLH Kota Bima bergandengan dengan Tim Balai Laboratorium Lingkungan DLHK Provinsi NTB untuk mengumpulkan seluruh sampel di lapangan.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari pemantauan kualitas lingkungan hidup yang kami lakukan secara berkala untuk memperoleh data yang akurat dan dapat kami pertanggungjawabkan nantinya,” tegasnya, Kamis, 6 Agustus 2026.
Syahrial menekankan, pengujian ini bukan sekadar rutinitas administratif belaka. Pihaknya akan memanfaatkannya sebagai alarm dini apabila terjadi penurunan kualitas lingkungan.
“Data hasil pengujian tidak sekadar menjadi dokumen laboratorium, tetapi sebagai dasar evaluasi kondisi lingkungan sekaligus penyusunan langkah pengendalian pencemaran apabila ada penurunan kualitas lingkungan,” ujarnya.
Acuan Perencanaan Hingga Pengambilan Kebijakan
Ia menambahkan, hasil pengujian akan menjadi acuan dalam tahap perencaraan, evaluasi, hingga pengambilan keputusan.
“Hasil pengujian laboratorium akan menjadi acuan dalam perencanaan, evaluasi, dan pengambilan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup di Kota Bima,” imbuhnya.
Petugas menyisir 12 alur sungai krusial. Mulai dari Sungai Lampe, Oi Mbo, Rabadompu, Sambinae, Sadia, Bedi, Padolo 2, Melayu, Rango, Jatibaru Timur, Jatibaru, hingga Rabasalo.
Tim menguji berbagai parameter penting seperti pH, temperatur, DO, TSS, COD, BOD, nitrat, fosfat, Fecal Coliform, hingga Total Coliform.
“Melalui pengujian ini kami ingin memperoleh gambaran kondisi kualitas air sungai. Sehingga langkah pengendalian pencemaran dapat kami susun berdasarkan data hasil pemantauan,” tutur Syahrial.
Tidak hanya sektor perairan, udara ambien juga menjadi fokus perhatian. Tim mengukur parameter PM2,5, SO₂, CO, O₃, dan NO₂ di lokasi berkarakteristik padat aktivitas.
Di antaranya seperti Kantor Wali Kota Bima, SMPN 6, Kantor Lurah Sarae. Kemudian di depan Polsek Rasanae Barat, TPA Oi Mbo, dan pemukiman sekitarnya.
“Sinergi dengan Balai Laboratorium Lingkungan DLHK Provinsi NTB. Harapannya dapat menghasilkan data yang valid sebagai dasar pengelolaan kualitas udara dan air di Kota Bima secara berkelanjutan,” pungkas Syahrial. (*)




