Ratusan Warga Berebut Jadi Pendamping Program Desa Berdaya
Lombok Timur (NTBSatu) – Ratusan warga mengikuti seleksi pendamping program Desa Berdaya di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Banyaknya peserta membuat Rani Oktavina terkejut saat datang mengikuti tahapan wawancara pada Rabu, 16 September 2026.
Rani mengaku, baru menyadari banyaknya pencari kerja yang mengikuti seleksi ketika tiba di lokasi. Menurutnya, peserta datang secara bertahap sehingga jumlahnya tidak langsung terlihat sekaligus.
“Pas saya lihat baru masuk tadi, ya Allah, ternyata sebanyak ini orang-orang yang mau bekerja. Karena lapangan kerja yang minim kan di sini, di Lombok Timur,” kata Rani, Rabu, 16 September 2026.
Perempuan yang akrab disapa Vina itu memperkirakan peserta yang mengikuti rangkaian seleksi mencapai ratusan orang. Proses wawancara berlangsung secara bertahap sejak Senin hingga Kamis, 17 September 2026.
Peserta yang mengikuti wawancara merupakan mereka yang telah melewati seleksi administrasi. Sebelumnya, panitia juga memberikan tes tertulis melalui Google Form sebagai bagian dari tahapan seleksi.
Rani mengatakan para peserta yang ditemuinya memiliki latar belakang beragam. Sebagian telah memiliki pengalaman kerja dan pengalaman di masyarakat, tetapi belum memiliki pekerjaan dengan kontrak tetap. “Rata-rata sudah punya pengalaman, cuma tidak punya kontrak kerja,” ujarnya.
Rani sendiri memiliki pengalaman dalam kegiatan pemberdayaan di desa. Lulusan Manajemen Universitas Mataram tahun 2023 itu kini bekerja sebagai operator sekolah sekaligus aktif sebagai Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM), KPMD, dan anggota tim desa digital di Desa Tete Batu Selatan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Rani mengikuti seleksi Desa Berdaya. Ia ingin memperluas keterlibatannya dalam kegiatan masyarakat.
“Karena kebetulan saya aktif di desa, mungkin jadinya saya pengen ikut terlibat lebih dalam lagi ke masyarakat,” katanya.
Insentif Jadi Alasan
Banyaknya peminat juga tidak lepas dari peluang mendapatkan pekerjaan sekaligus insentif bagi pendamping yang lolos.
Berdasarkan informasi yang diterima peserta, insentif pendamping Desa Berdaya diperkirakan berada di kisaran Rp2,6 juta per bulan, atau kurang lebih setara dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) NTB.
Nominal tersebut menjadi salah satu pertimbangan bagi peserta, terutama bagi mereka yang saat ini belum memiliki pekerjaan dengan kontrak tetap. Rani pun mengakui faktor insentif turut mendorong dirinya mengikuti seleksi.
“Kalau saya jujur, pastilah, kita namanya manusia juga karena insentif. Ini realistis saja, benar, pasti karena insentif,” ujarnya.
Rani berharap, tetap mendapat penempatan di Desa Tete Batu Selatan. Ia mengatakan, pengalaman dan keterlibatannya selama ini di desa tersebut dapat menjadi bekal untuk menjalankan tugas pendampingan.
Sementara itu, Muh. Novriandi, peserta lainnya, mengikuti seleksi dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Pria 25 tahun asal Desa Wakan, Kecamatan Jerowaru, itu merupakan lulusan S1 bidang pendidikan dan S2 ekonomi dari UIN Mataram.
Ian mengatakan, dirinya ingin menggunakan ilmu yang diperoleh selama kuliah untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat. Ia juga ingin kembali ke Lombok Timur dan membawa gagasan baru melalui program Desa Berdaya.
“Intinya saya hari ini ingin pulang ke Lotim dulu. Pengen pulang ke Lotim dengan kondisi kita bawa hal yang baru, harapan baru, bicara soal NTB lebih baik,” kata Ian.
Ia tidak mempersoalkan lokasi penempatan karena siap mengikuti kebutuhan program. Namun, Ian berharap, mendapat kesempatan mendampingi desa wisata seperti Sembalun.
Ian juga berharap bisa mendapat lokasi tugas yang tidak jauh dari tempat tinggalnya di Jerowaru. Menurutnya, kedekatan dengan masyarakat setempat dapat mendukung proses pendampingan yang akan ia jalankan. (*)




