Dapat Rp300 Juta dari Pemprov NTB, Desa Masbagik Utara Baru Gunakan untuk Budidaya Ikan
Lombok Timur (NTBSatu) – Pemerintah Desa Masbagik Utara Baru, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, mengarahkan dana Program Desa Berdaya sebesar Rp300 juta untuk mengembangkan budidaya ikan air tawar.
Dana tersebut akan digunakan untuk membeli 20 ribu bibit ikan nila berkualitas terbaik. Pemerintah desa menargetkan bibit tersebut dapat dipanen pada akhir 2026.
Kepala Desa Masbagik Utara Baru, Khaerul Ihsan mengatakan, Program Desa Berdaya menjadi peluang bagi pemerintah desa untuk memperluas usaha budidaya ikan yang sudah berjalan sejak 2025 melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Kami mendapatkan suntikan dana dari Program Desa Berdaya Provinsi NTB. Ini kami selaraskan dengan potensi wilayah yang memang cocok untuk budidaya ikan air tawar,” ujarnya, Rabu, 2 September 2026.
Menurutnya, Desa Masbagik Utara Baru memiliki sumber air yang mendukung pengembangan budidaya ikan. Air dari sumber tersebut mengalir langsung ke kolam sehingga membantu menjaga kondisi lingkungan budidaya.
Khaerul menyebut, pengembangan melalui Program Desa Berdaya tidak hanya berhenti pada pembelian bibit nila. Pemerintah desa juga akan membangun dua kolam tambahan.
Dua kolam tersebut nantinya akan mendukung penampungan dan budidaya ikan lele serta bawal. Dengan tambahan kolam, desa dapat mengembangkan lebih banyak komoditas ikan air tawar.
“Kami mau mengembangkan ini secara paralel. Jadi tidak hanya ikan nila, nanti ada juga lele dan bawal,” ujarnya.
Target Panen Akhir Tahun
Khaerul menjelaskan, BUMDes Masbagik Utara Baru telah melakukan tiga kali panen ikan nila. Total hasil panen sebelumnya mencapai sekitar lima hingga enam ton.
Saat ini, BUMDes kembali melakukan panen keempat secara bertahap. Pengelola menyesuaikan proses panen dengan kebutuhan pasar dan kapasitas penampungan.
Sejumlah pembeli dari Bali juga menjadi salah satu pasar bagi hasil budidaya ikan tersebut. Namun, permintaan pembeli memiliki ukuran ikan yang berbeda sehingga pengelola menyesuaikan proses panen.
Ia optimistis penambahan 20 ribu bibit nila melalui Program Desa Berdaya akan meningkatkan produksi sekaligus pendapatan usaha desa.
“Kalau produksinya semakin banyak, tentu omzet dan pendapatannya juga akan meningkat,” katanya.
Ia mengatakan, usaha budidaya ikan membutuhkan biaya produksi yang cukup besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan pakan. BUMDes juga harus mengalokasikan biaya bagi tenaga yang menjaga dan mengelola kolam.
Meski demikian, Khaerul menilai hasil penjualan masih memberikan peluang surplus bagi BUMDes. Pendapatan tersebut nantinya dapat memperkuat pendapatan BUMDes sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).
Bidik Pasar MBG
Selain memperluas produksi, Pemerintah Desa Masbagik Utara Baru mulai membidik program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pasar baru.
Khaerul berharap dapur MBG dapat menjalin kerja sama dengan BUMDes untuk memenuhi kebutuhan ikan. Kerja sama tersebut menurutnya dapat membuka pasar yang lebih stabil bagi hasil budidaya desa.
“Kami ingin ada kerja sama dengan dapur MBG. Kami berharap pemerintah juga bisa mendorong dapur-dapur itu mengambil ikan dari kami sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pihaknya akan menyesuaikan kualitas, ukuran, dan kebutuhan ikan dengan permintaan pasar. Langkah itu penting agar kerja sama antara BUMDes dan dapur MBG dapat berjalan saling menguntungkan.
Melalui Program Desa Berdaya, pemerintah desa ingin menjadikan budidaya ikan sebagai salah satu sumber ekonomi berkelanjutan.
Pengembangan nila, lele, dan bawal diharapkan mampu meningkatkan produksi, omzet BUMDes, serta kontribusi terhadap PADes. (*)




