Lombok Timur

GANAS Lombok Timur Tolak Agam Rinjani, Igor ‘Amtenar’ Beri Komentar Menohok

Mataram (NTBSatu) – Musisi lokal Igor “Amtenar” turut buka suara menyikapi riuhnya rencana kedatangan Agam Rinjani bersama Panji Petualang. Ia memberikan respons berupa sindiran satire di akun media sosialnya pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Igor meluapkan tanggapan tersebut di tengah gelombang penolakan massal yang gencar disuarakan Gerakan Advokasi Nusantara (GANAS). Termasuk elemen masyarakat di Lombok Timur.

“Aku sih enggak nolak, senang banget malah, semakin banyak orang yang konsen sama Rinjani. Cuma mau tanya saja, belum cukupkah? Masih kurang? Apa enggak sekalian bikin film Rambo 6 atau Cliffhanger 2 gitu?” ujarnya, mengutip akun Facebook Igor, Minggu, 21 Juni 2026.

IKLAN

Melalui unggahan tersebut, Igor Amtenar menilai bahwa daripada terus memproduksi konten kontroversial, mereka sebaiknya mengangkat budaya lokal.

Selain itu, ia menganggap perdebatan mengenai klaim jasa di Gunung Rinjani sudah terlalu berlebihan. Sehingga, ia menyentil fenomena tersebut lewat humor yang cukup menohok bagi para pihak yang terlibat konflik narasi.

Sentilan Satire Basis Amtenar

Sebagai bentuk sentilan langsung kepada pihak-pihak yang kerap merasa paling berjasa, Igor menawarkan ide kreatif. Ia menyarankan untuk membuat film bertema Suku Sasak Lombok.

IKLAN

Selain itu, ia mengusulkan beberapa judul panjang bernada jenaka, menggunakan kombinasi bahasa daerah untuk menggelitik fenomena tersebut.

“Daripada bikin begituan yang kontroversi mending bikin film bertema sasak lombok, nanti judulnya ‘Aku pokok mesak ku paling tabah (pokoknya saya yang paling berani, red). Paling lelah. Paling berjase sedunie atas langit bawah tanah (paling berjasa di dunia di atas langit dan bawah tanah, red). Tidak boleh ngomong lagi’,” lanjutnya.

Ia menyarankan, untuk segera membuat film dengan ide judul yang disarankannya. “Bagus kan judulnya? Bikin gih. Buruan,” lanjutnya.

Aksi Penolakan Ganas Lombok Timur

Sebelum muncul komentar satire dari Igor, Ganas Lombok Timur sudah lebih dulu menyatakan sikap tegas untuk menolak kedatangan Agam Rinjani. Komunitas tersebut secara terbuka menyuarakan keberatan dan mendesak agar segala bentuk eksploitasi isu Rinjani segera berhenti.

Perwakilan Ganas Lombok Timur, Royall Sembahulun, menyatakan kekecewaannya terhadap rencana liputan khusus. Kegiatan itu rencananya bertujuan untuk memperingati satu tahun evakuasi pendaki asal Prancis, Juliana.

Royall mengklaim pihaknya mencium adanya upaya penggiringan narasi tunggal yang mengarah pada pengakuan sepihak, atas aksi penyelamatan tersebut.

“Tentunya kami kecewa. Tiba-tiba setahun menghilang, dan sekarang ingin datang untuk memamerkan dirinya. Bahwa orang yang paling berjasa di dalam penyelamatan Juliana,” ujar Royall.

Ganas Lombok Timur menegaskan, operasi penyelamatan yang berlangsung dramatis tersebut merupakan hasil kerja bersama. Para relawan yang setidaknya berjumlah tujuh orang, bertaruh nyawa di medan yang ekstrem.

Oleh karena itu, penyematan gelar sepihak atau pengabaian terhadap kontribusi tim evakuasi lainnya justru mencederai rasa keadilan komunitas lokal.

Polemik ini langsung membuka diskusi di kalangan warganet regional. Banyak pihak mempertanyakan batasan etis bagi para pembuat konten. Terutama dalam memanfaatkan isu kemanusiaan dan lingkungan demi kepentingan komersil atau popularitas.(*)

Artikel Terkait