Mantan Ketua DPRD Lobar Turun Ke Jalan Bela MBG, Sebut Jangan Kalah oleh Iri Dengki
Mataram (NTBSatu) – Dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya datang dari relawan dan mitra dapur. Mantan Ketua DPRD Lombok Barat (Lobar) periode 2019- 2024, Nurhidayah, juga turun langsung dalam aksi massa di depan Kantor Gubernur NTB.
Di tengah gelombang dukungan terhadap program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu, Nurhidayah menilai MBG tidak boleh berhenti hanya karena adanya kelompok yang menolak atau meragukan program tersebut.
“Kita tidak boleh gentar karena ada beberapa pihak yang iri dan dengki agar MBG ini dihentikan,” ujar Nurhidayah saat berorasi dalam aksi Aliansi Rakyat NTB, Senin, 22 Juni 2026.
Menurutnya, penghentian MBG tidak hanya berdampak pada penerima manfaat. Program itu juga menjadi sumber penghidupan bagi ribuan masyarakat yang terlibat dalam rantai pelaksanaannya.
“Kita hadir untuk menyuarakan dukungan kepada Presiden Prabowo dan melanjutkan program MBG,” kata politisi senior yang aktif menjadi kader Gerindra tersebut.
MBG Buka Lapangan Kerja Baru
Nurhidayah mengatakan, manfaat MBG menjadikan kelompok yang selama ini kesulitan memperoleh pekerjaan dapat merasakan kenikmatan bekerja. Salah satunya perempuan berusia di atas 40 tahun dan para janda.
Ia menyebut, banyak perempuan NTB kini bekerja di dapur MBG sehingga tidak lagi harus mencari pekerjaan ke luar daerah atau luar negeri.
“Banyak perempuan NTB hari ini tidak menjadi tenaga kerja di luar negeri karena bekerja di MBG,” ujarnya.
Menurutnya, kelompok usia tersebut sering menghadapi keterbatasan akses pekerjaan di sektor formal. Namun, program MBG membuka ruang bagi mereka untuk memperoleh penghasilan.
“Banyak perempuan berusia 40 tahun dan janda yang tidak mungkin diterima kerja lagi, tetapi MBG menerima mereka,” katanya.
Aksi Munculkan Narasi Perlawanan
Dalam orasinya, Nurhidayah juga mengajak pendukung MBG lebih aktif menyuarakan dukungan kepada pemerintah pusat. Ia menilai, kelompok yang menginginkan program itu berhenti akan terus menyampaikan tekanan jika pendukung MBG memilih diam.
“Kalau kita diam, mereka akan terus bersuara kepada Presiden untuk menghentikan MBG,” ujarnya.
Karena itu, massa aksi menyerukan komitmen untuk mengawal keberlanjutan program tersebut.
Sebelumnya, Koordinator Aksi Aliansi Rakyat NTB, Syawaluddin Aweng, juga menegaskan penghentian MBG berpotensi menambah angka pengangguran di NTB.
“Kalau program ini stop, saya yakin akan banyak sekali terjadi pengangguran di NTB ini,” katanya.
Menurutnya, manfaat MBG menjangkau petani, peternak, nelayan, UMKM, hingga pekerja dapur yang terlibat dalam penyediaan makanan bergizi.
Sejumlah pihak sebelumnya menyoroti tata kelola, efektivitas, dan potensi penyimpangan program. Namun, bagi para pendukungnya, manfaat ekonomi yang mulai masyarakat rasakan menjadi alasan utama program harus terus berjalan.
Nurhidayah menegaskan, kehadirannya dalam aksi bukan mewakili kelompok tertentu. Ia mengklaim massa berasal dari berbagai unsur masyarakat.
“Kami hadir mewakili petani, peternak, penerima manfaat, pondok pesantren, dan elemen masyarakat lainnya,” ujarnya.
Bagi mereka, keberlanjutan MBG kini tidak hanya dipandang sebagai agenda pemerintah pusat. Program itu juga menjadi sumber penghasilan baru bagi sebagian masyarakat NTB yang selama ini kesulitan memperoleh pekerjaan tetap. (*)




