Keluarga Korban Luka Bakar Ponpes di Batukliang Minta Pendampingan Hingga Sembuh
Lombok Tengah (NTBSatu) – Keluarga salah satu korban luka bakar dalam insiden di Pondok Pesantren Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi NW, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, berharap para korban mendapat pendampingan hingga benar-benar pulih.
Nurul Hidayah, bibi salah satu korban mengatakan, keluarga tidak memiliki tuntutan berlebihan. Mereka hanya ingin ada tanggung jawab terhadap para korban yang hingga kini masih merasakan dampak dari peristiwa tersebut.
“Harapan dari pihak keluarga agar mendapat bantuan untuk kesembuhan anak saja. Tanggung jawab penuh sampai sehat. Harapan terbesar dari pihak keluarga, tidak lebih dari itu,” kata Nurul kepada NTBSatu, Sabtu 6 Juni 2026.
Menurut Nurul, keluarga merasa sejumlah persoalan belum tuntas meski insiden tersebut telah terjadi beberapa bulan lalu. Terlebih, salah satu korban meninggal dunia beberapa waktu setelah kejadian.
Ia mengaku, keluarga sempat mengikuti beberapa kali musyawarah yang melibatkan pihak pondok pesantren dan keluarga korban. Dalam pertemuan itu, kata Nurul, pihak keluarga berharap pondok juga ikut bertanggung jawab terhadap kondisi para korban.
Namun, Nurul mengaku pernah mendengar pernyataan yang membuat keluarga keberatan. Menurutnya, saat musyawarah berlangsung, Ketua Yayasan menyampaikan bahwa pihaknya juga merupakan korban dalam peristiwa tersebut.
“Memang Abah tidak pernah bilang lepas tangan. Cuma pas musyawarah, Abah pernah menjelaskan bahwa dia tidak akan tanggung jawab karena dia juga korban,” ujarnya.
Ngaku Mendapat Larangan Bercerita
Selain itu, Nurul mengaku menerima cerita dari korban. Mereka sempat dimarahi ketika menceritakan kejadian yang mereka alami saat menjalani perawatan di Puskesmas Pancor Dao.
Korban menyampaikan keterangan itu kepada keluarga setelah peristiwa itu terjadi. Namun, ia tidak merinci lebih jauh bentuk teguran yang korban terima.
Nurul juga membantah anggapan bahwa pihak pondok terus melakukan pendampingan hingga saat ini. Menurutnya, kunjungan dari pihak pondok sudah tidak lagi dilakukan setelah Lebaran.
“Setelah Lebaran sudah tidak ada lagi yang datang menjenguk,” katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi NW, Ahmad Muzakki Rahmatullah membantah keterangan keluarga korban terkait dugaan adanya teguran terhadap korban yang menceritakan peristiwa tersebut. Saat dikonfirmasi NTBSatu, ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melarang korban bercerita
“Tidak Pernah”, ujarnya. (*)




