Lombok Tengah

Potret Pilu Lima Lansia Bersaudara: Saling Menjaga hingga Tua di Batukliang Utara

Mataram (NTBSatu) – Lima orang Lanjut Usia (Lansia) menjalani sisa hidup bersama di sebuah rumah sederhana di Dusun Pesantek, Desa Setiling, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Mereka berlima memilih tidak menikah dan kini saling menopang di tengah keterbatasan fisik dan himpitan ekonomi yang mendalam. Dalam sebuah video yang beredar menyebutkan, mereka merupakan saudara kandung yang hidup bersama tanpa pernah menikah.

“Lima bersaudara menua bersama. Tidak ada satu pun yang menikah,” ujar warganet dalam video, mengutip akun Instagram @senjajaya pada Sabtu, 18 Juli 2026.

IKLAN

Rekaman video memperlihatkan keadaan fisik kelima lansia yang sudah renta dengan rambut yang memutih. Tiga dari mereka mengalami keterbatasan fisik yang signifikan. Saudara pertama mengalami kebutaan total, saudara kedua terbaring dan duduk dengan fisik yang sakit-sakitan, sementara saudara ketiga mengalami penglihatan rabun.

Dalam video tersebut juga tampak salah satu lansia kehilangan penglihatan dibantu berjalan oleh saudaranya yang lain.

Penyangga Keluarga

Di tengah keterbatasan tiga saudaranya, dua bersaudara lainnya sebagai tiang penyangga kelangsungan hidup keluarga ini. Saudara keempat dengan fisik yang masih relatif sehat, memikul tanggung jawab harian untuk memasak dan melayani keperluan saudaranya yang lain.

IKLAN

Sementara itu, saudara kelima bertindak sebagai tulang punggung ekonomi. Setiap hari, ia bekerja serabutan dengan mencari rumput untuk pakan sapi milik tetangga sekitar demi mengais rupiah.

“Satu masih bisa bekerja dengan mencari rumput, dijual ke tetangga yang punya sapi. Satu nenek yang masih jelas penglihatannya tugasnya jadi tukang masak. Tiga lainnya sakit-sakitan dan tidak bisa melihat,” lanjutnya.

Mengandalkan Uluran Tangan

Dalam video tersebut, terlihat keadaan rumah tempat mereka tinggal dengan tembok batako tanpa plesteran semen dan beralaskan lantai semen yang sebagian sudah retak. Sedangkan area dalam rumah memiliki ruang yang sangat terbatas.

Karena keterbatasan kamar tidur, sebagian dari lansia ini harus tidur di dipan kayu yang berada di lorong luar kamar hanya beralaskan kasur tipis dan kain sarung.

Di bagian dapur, peralatan memasak yang menghitam karena asap tungku tersusun di atas meja kayu. Sedangkan ember-ember plastik sebagai penampung air bersih keperluan memasak dan mandi.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, kelima bersaudara ini mendapat pasokan pangan tambahan dari pemberian para tetangga di sekitar tempat tinggalnya.

Warga setempat berharap adanya perhatian dan bantuan yang lebih konsisten dari berbagai pihak maupun pemerintah untuk kelima lansia tersebut. Mereka berharap dukungan tersebut nantinya bisa memenuhi kebutuhan dasar serta jaminan kesehatan harian mereka agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Langkah Penanganan Pemerintah

Merespons keadaan tersebut, Dinas Sosial Lombok Tengah memberikan penjelasan mengenai kendala administratif. Kelima lansia ini sebelumnya tidak terdeteksi secara optimal pada sistem data terbaru karena masih dalam satu Kartu Keluarga (KK). Mereka masih menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) lama yang belum memperbarui ke sistem daring (online).

Kepala Dinsos Lombok Tengah, Masnun mengatakan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan proses perekaman ulang NIK. Selain itu, tim dokter juga telah memeriksa kesehatan fisik secara langsung, khususnya bagi tiga lansia yang mengalami gangguan penglihatan dan sakit-sakitan.

Selanjutnya, Masnun menegaskan pemerintah daerah telah menyusun rencana pemindahan dan pembangunan hunian baru yang lebih layak untuk kelima lansia tersebut.

“Pak Bupati sudah pindahkan kemarin. Perkim akan membuatkan rumah,” ujarnya kepada NTBSatu pada Sabtu, 18 Juli 2026. (*)

Artikel Terkait