Bukan Sekadar Destinasi Wisata, Warga Sade Masih Pertahankan Adat hingga 15 Generasi
Lombok Tengah (NTBSatu) – Dusun Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, tidak hanya menawarkan rumah tradisional dan kain tenun kepada wisatawan. Di balik ramainya kunjungan wisatawan, masyarakat setempat masih menjalankan sejumlah tradisi yang diwariskan leluhur hingga saat ini.
Amaq Epa, juru arah dan masyarakat adat desa Sade, mengatakan masyarakat setempat masih menjaga bentuk bangunan, adat, dan tradisi peninggalan leluhur.
“Jadi, kampung kami ini salah satu desa adat yang masih bertahan dan masih mempertahankan bentuk bangunan, adat tradisi, peninggalan dari leluhur kami,” jelasnya kepada NTBSatu, Sabtu 9 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, kawasan Sade memiliki sekitar 150 rumah yang dihuni 150 kepala keluarga. Jumlah penduduknya mencapai lebih dari 500 jiwa.
Amaq Epa mengatakan, warga Sade masih menjaga hubungan kekerabatan. Sebagian masyarakat masih menikah dengan kerabat untuk mempertahankan garis keturunan.
“Karena mempertahankan kekerabatan kami di sini, sampai sekarang masih menikah dengan sepupu dan kerabat sendiri,” ujarnya.
Tradisi Kawin Lari dan Wajib Menenun
Salah satu tradisi yang masih bertahan yakni perkawinan. Amaq Epa mengatakan, perempuan di Sade tidak melalui proses lamaran seperti pada umumnya.
“Ketika kami menikah tidak boleh ada lamaran. Karena kalau anak gadis kami dilamar, menurut kami di sini melanggar adat. Jadi harus dengan cara laki-laki membawa lari atau menculik calonnya,” jelasnya.
Ia membedakan kawin lari dan kawin culik. Kawin lari terjadi ketika laki-laki dan perempuan sudah saling menyukai. Sementara kawin culik memiliki unsur paksaan.
Selain itu, perempuan Sade wajib bisa menenun sebelum menikah. Inak Kepin, warga sekaligus pemandu wisata, mengatakan kemampuan menenun menjadi salah satu syarat bagi perempuan untuk menikah.
“Kalau perempuan sini tidak bisa menenun, tidak boleh nikah di sini. Itu persyaratan wajibnya perempuan,” katanya.
Warga Sade juga masih mempertahankan tradisi membersihkan lantai rumah menggunakan kotoran sapi atau kerbau.
Amaq Epa mengatakan warga mengepel rumah sekitar satu kali dalam seminggu. Tradisi tersebut bertujuan memperkuat lantai rumah yang menggunakan tanah liat sekaligus menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat.
“Kalau sudah dipel pakai kotoran sapi, retak-retaknya bisa tertutup. Terus sebagai tolak bala juga,” ujarnya.
Wahyu, warga sekaligus pemandu wisata Sade, mengatakan masyarakat menyebut rumah tradisional mereka sebagai Bale Tani atau Bale Gunung Rate.
“Bale Gunung Rate itu rata semua. Tidak ada yang jadi raja atau apa. Jadi kalau jadi kepala suku pun rata,” katanya.
Sade Semakin Ramai Dikunjungi
Amaq Epa mengatakan wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara terus berdatangan ke Sade. Kunjungan wisatawan mulai ramai sejak sekitar 1980-an dan meningkat seiring perkembangan akses pariwisata di Lombok.
“Apalagi sekarang kan sudah ada dekat bandara, ada sirkuit. Alhamdulillah tamu makin bertambah,” ujarnya.
Meski menjadi destinasi wisata, Amaq Epa berharap Sade tetap menjadi ruang hidup masyarakat, bukan sekadar tempat pertunjukan budaya.
“Harapan saya ke depannya, Sade ini bukan hanya tempat pertunjukan wisatawan, tapi ini adalah tempat tinggal sehari-hari,” katanya.
Ia berharap rumah tradisional, adat, dan tradisi peninggalan leluhur tetap terjaga di tengah semakin berkembangnya pariwisata. (*)




