Internasional

Iran Blokir Selat Hormuz, Tuntut AS Bayar Ganti Rugi Perang 300 Miliar Dolar

Mataram (NTBSatu) – Garda Revolusi Iran menegaskan, tidak akan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz sebelum Pemerintah Amerika Serikat memenuhi seluruh tuntutan mereka. Tuntutan tersebut mencakup pembayaran dana kompensasi atas kerusakan akibat perang sebesar 300 miliar dolar AS.

Aksi penutupan jalur logistik vital ini mengguncang pasar energi internasional sekaligus memicu lonjakan harga minyak dunia. Meski blokade Iran memicu tekanan politik global, Pemerintah Amerika Serikat belum menunjukkan tanda-tanda akan meluluskan daftar permintaan Teheran.

​”Strategi kami adalah mempertahankan blokade sampai musuh menerima semua persyaratan kami. Selat tersebut kini sebenarnya menjadi teater perang bagi kami. Ini bukan hanya jalur air,” tegasnya, mengutip laman Tasnim News Agency pada Senin, 10 Agustus 2026.

IKLAN

Syarat Mutlak Pembukaan Jalur Maritim

Garda Revolusi Iran menetapkan paket syarat mutlak untuk mengakhiri pembatasan di koridor maritim strategis tersebut. Selain kompensasi finansial, Teheran menuntut penghentian seluruh konfrontasi militer di semua lini pertempuran.

​Iran juga mendesak Washington segera mencabut pemblokiran terhadap pelabuhan-pelabuhan utama mereka, menghapus sanksi ekonomi, serta membebaskan seluruh aset negara yang membeku di luar negeri. Persyaratan ini mempertegas komitmen kesepakatan pemulihan pascakonflik yang dirancang sejak pertengahan tahun.

​Selain itu, langkah militer Iran memindahkan fokus Selat Hormuz dari koridor perdagangan bebas menjadi area konfrontasi terbuka. Blokade berkepanjangan ini mengancam stabilitas distribusi minyak mentah dunia mengingat peran vital perairan tersebut sebagai urat nadi pasokan energi global.

Respon AS dan Dampak Ekonomi Global

​Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump merespons gertakan dan aksi blokade Teheran dengan santai. Selanjutnya, Trump menilai tekanan ekonomi internal yang menimpa Iran akan meredam perlawanan negara tersebut secara alami.

​”Kami hanya menyaksikan Iran dengan inflasi yang sangat besar dan fakta bahwa mereka tidak punya uang. Ini seperti permainan catur,” ujar Trump.

​Penutupan jalur pelayaran internasional ini menciptakan tantangan politik mendesak bagi pemerintahan Trump jelang agenda pemilu paruh waktu. Kenaikan harga bahan bakar dan komoditas akibat gangguan jalur pasokan laut terus menambah beban perekonomian domestik Amerika Serikat dan sekutunya.

​Meski demikian, Garda Revolusi Iran menyatakan akan tetap menguasai Selat Hormuz sampai Amerika Serikat merealisasikan seluruh tuntutan finansial dan pencabutan sanksi. Oleh karena itu, tanpa kesepakatan konkret, koridor pelayaran strategis tersebut dipastikan tetap berada dalam ancaman penutupan total. (*)

Artikel Terkait