Kepercayaan Jadi Kunci Utama Kepemimpinan Digital, Bukan Sekadar Teknologi
Bima (NTBSatu) – Kepercayaan menjadi modal terpenting bagi seorang pemimpin pada era digital. Pesan tersebut menjadi inti materi bertajuk Menjadi Pemimpin yang Kuat: Strategi Komunikasi Massa yang Efektif dan Efisien di Era Digital dalam Sharing Session STKIP Taman Siswa Bima, Kamis, 6 Agustus 2026.
Akademisi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Prof. Dr. Nurliah Nurdin, M.A., membawakan materi melalui subtema From Digital Generation to Digital Leaders.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh, mengolah, hingga menyebarkan informasi. Kondisi tersebut menuntut pemimpin membangun kepercayaan, bukan sekadar mengandalkan jabatan atau kewenangan.
“Di era banjir informasi, kekuasaan membuat orang mendengar. Kepercayaan membuat orang mengikuti,” ungkapnya.
Menurut Prof. Nurliah, kepercayaan publik tumbuh melalui empat pilar utama. Yakni credibility atau dapat dipercaya, competence atau kemampuan menghasilkan kinerja. Selanjutnya, consistency yang menunjukkan kesesuaian antara ucapan dan tindakan, serta connection yang mencerminkan kedekatan pemimpin dengan masyarakat.
Ia menilai, empat unsur tersebut menjadi fondasi yang memperkuat legitimasi, mendorong kolaborasi, sekaligus menentukan keberhasilan kebijakan. Seorang pemimpin mungkin memiliki kewenangan, tetapi kepemimpinan tidak akan bertahan tanpa kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan Menjadi Fondasi Kepemimpinan Era Digital
Prof. Nurliah menjelaskan, perubahan akibat teknologi berlangsung sangat cepat. Ia mengutip proyeksi World Economic Forum dan UNESCO yang memperkirakan sekitar 22 persen pekerjaan formal dunia mengalami transformasi.
Lembaga tersebut juga memproyeksikan lahirnya 170 juta pekerjaan baru, sementara sekitar 92 juta pekerjaan berpotensi tergeser menjelang 2030.
Perubahan tersebut ikut menggeser pola kepemimpinan. Model yang sebelumnya mengandalkan otoritas dan hierarki kini berkembang menjadi kepemimpinan yang lebih autentik, dialogis, serta kolaboratif.
Ia juga mengutip survei Deloitte Global 2025 terhadap lebih dari 23 ribu responden Gen Z dan milenial pada 44 negara. Hasil survei menunjukkan 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial menganggap sense of purpose sebagai faktor penting yang memengaruhi kepuasan kerja.
Prof. Nurliah menegaskan, kepemimpinan digital tidak hanya menuntut kemampuan memanfaatkan teknologi. Pemimpin juga perlu memahami perubahan, membangun kepercayaan, menggerakkan masyarakat, memanfaatkan data secara etis, serta menghadirkan manfaat nyata.
“Teknologi hanyalah alat. Kepemimpinan tetap tentang manusia,” tegasnya.
Inovasi dan Kolaborasi Jadi Kunci Pemimpin Digital
Sebagai contoh, Prof. Nurliah menyoroti capaian Pemerintah Kota Bima yang berhasil meningkatkan jumlah inovasi daerah dari 162 menjadi 234 inovasi berdasarkan Laporan Indeks Inovasi Daerah Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan bukan sekadar mengejar jumlah inovasi.
“Inovasi yang tidak dikomunikasikan dengan baik akan sulit memperoleh kepercayaan, partisipasi, dan adopsi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengangkat persoalan akses internet pada Kelurahan Lelamase dan SMPN 12 Kota Bima sebagai contoh penerapan kepemimpinan digital.
Menurutnya, solusi lahir melalui proses mendengarkan aspirasi warga, mengumpulkan data, membangun kolaborasi bersama berbagai pihak, lalu menghadirkan langkah nyata untuk memperbaiki layanan.
“Digital leadership bukan soal siapa yang paling canggih teknologinya, tetapi siapa yang paling cepat mengubah informasi menjadi solusi,” tuturnya.
Untuk memperkuat komunikasi publik, Prof. Nurliah memperkenalkan model komunikasi LUAS, yaitu Listen, Understand, Adapt, dan Share. Model tersebut mendorong pemimpin agar mendengarkan masyarakat lebih dahulu, memahami konteks, menyesuaikan pesan, lalu menyampaikan informasi secara jelas dan konsisten.
Pada akhir pemaparannya, Prof. Nurliah memperkenalkan konsep Pemimpin Digital Bima 5C, yaitu Connect, Communicate, Collaborate, Create, dan Care. Ia mengajak seluruh peserta menghadirkan inovasi berikutnya yang mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Bukan hanya inovasi digital, tetapi inovasi yang membuat masyarakat merasa pemerintah hadir,” ujarnya.
Sharing Session tersebut menjadi bagian dari komitmen STKIP Taman Siswa Bima sebagai kampus berdampak.
Kegiatan berlangsung serentak di Gedung Beradab, Auditorium Sudirman Kampus I STKIP Taman Siswa Bima, serta Aula Kantor Wali Kota Bima dengan menghadirkan sejumlah akademisi dan tokoh nasional sebagai narasumber. (*)




