Dosen Poltekpar Lombok Kembangkan Model Promosi Digital di Desa Kembang Kuning
Lombok Timur (NTBSatu) – Dosen Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, Lalu Ratmaja, mengembangkan model promosi digital berbasis budaya dan partisipasi masyarakat di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur.
Model ini mendorong masyarakat memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan potensi desa wisata, mulai dari kuliner, adat istiadat, hingga cerita rakyat.
“Yang kita harapkan sekali adalah generasi mudanya. Bagaimana mereka membuat konten yang menjual, terutama melalui storytelling dan video, sehingga orang tertarik datang ke desa ini,” kata Ratmaja, Jumat, 9 Oktober 2026.
Ratmaja mengatakan, promosi desa wisata perlu melibatkan berbagai unsur masyarakat, tidak hanya pemerintah desa dan pengelola pariwisata.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kelompok sadar wisata (Pokdarwis), badan usaha milik desa (BUMDes), tokoh masyarakat, serta tokoh budaya juga memiliki peran penting.
Menurutnya, kemampuan masyarakat mengemas potensi lokal menjadi cerita menarik menjadi salah satu kunci promosi pariwisata melalui media digital.
Ia menargetkan model ini mampu memberikan manfaat ekonomi melalui peningkatan kunjungan wisatawan dan peluang memperoleh insentif dari tayangan konten di media sosial.
“Harapannya, selain wisatawan datang berkunjung ke sini, masyarakat juga mendapat insentif dari tayangan-tayangan di media sosial,” kata Lalu Ratmaja.
Ratmaja mencontohkan sambal lekong sebagai salah satu potensi kuliner Desa Kembang Kuning yang dapat menjadi materi promosi.
Selain kuliner, desa tersebut juga memiliki potensi kemiri yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari identitas dan daya tarik ekonomi lokal.
“Pariwisata itu selama ini mengandalkan penginapan. Sekarang bagaimana supaya masyarakat juga mendapat manfaat dari promosi melalui media sosial,” ujarnya.
Libatkan Masyarakat
Ratmaja menjelaskan, model promosi digital tersebut tidak hanya berorientasi pada pembuatan konten, tetapi juga mendorong masyarakat mengelola promosi secara mandiri dan berkelanjutan.
“Output-nya nanti berupa model, kemudian ada buku panduan dan buku teknik mengembangkan ekonomi desa,” katanya.
Selain itu, ia juga merencanakan pelatihan bagi masyarakat agar peserta mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan menyebarkannya kepada warga lain.
Ia menekankan pentingnya mengukur keberhasilan program hingga tahap dampak atau impact. Menurutnya, pelatihan dan tersedianya produk promosi belum cukup untuk menunjukkan keberhasilan jika masyarakat belum merasakan manfaatnya.
“Jangan sampai begitu ada output, tetapi tidak ada dampaknya. Evaluasi kegiatan sesungguhnya harus sampai ke impact, bagaimana desa semakin dikenal dan masyarakatnya semakin makmur,” tegasnya.
Ratmaja memilih Desa Kembang Kuning karena telah mendampingi pengembangan desa wisata tersebut sejak 2016.
Pengalaman selama sekitar satu dekade itu menjadi salah satu dasar untuk mendorong pengembangan model yang mampu memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Belajar dari Desa Bilebante
Dalam mengembangkan pendekatan berbasis budaya, Ratmaja juga merujuk pengalamannya mendampingi Desa Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah. Ia mengembangkan cerita rakyat sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas dan daya tarik wisata desa.
Salah satu cerita yang ia tulis ialah Lale Junti, yang mengisahkan asal-usul nama Desa Bilebante serta nilai-nilai budaya masyarakat setempat.
“Cerita rakyat ini menarik untuk dikembangkan karena bisa memperkenalkan asal-usul desa sekaligus budaya yang dimiliki masyarakat,” kata Ratmaja.
Masyarakat dapat mengemas kekayaan budaya tersebut melalui video, narasi digital, dan berbagai konten media sosial.
Ia berharap, Desa Kembang Kuning dapat mengembangkan pendekatan serupa dengan melibatkan generasi muda dan berbagai unsur masyarakat.
Dengan begitu, promosi wisata tidak hanya bergantung pada fasilitas penginapan, tetapi juga pada kekuatan cerita, budaya, dan produk lokal.
Ratmaja menegaskan, keberhasilan model tersebut perlu terlihat dari kemampuan masyarakat melanjutkan promosi setelah pelatihan berakhir.
Tim perlu memantau sejauh mana peserta menyebarkan keterampilan kepada warga lain dan mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
“Harapan saya, impact-nya itu ada, desa ini semakin dikenal dan masyarakatnya makmur,” kata Ratmaja.
Sementara masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk terlibat dalam pengembangan pariwisata dan memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan. (*)




