Lombok Timur

Bunga Jempiring di Balik Nama Desa Kembang Kuning

Lombok Timur (NTBSatu) – Bunga jempiring berwarna kuning menyimpan cerita di balik nama Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur. Tanaman yang dahulu tumbuh subur sebagai pagar pekarangan warga itu menjadi bagian dari kenangan masyarakat sekaligus identitas desa.

Akademisi Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok sekaligus pengamat budaya dan sejarah, Lalu Ratmaja mengatakan, bunga tersebut dahulu mudah ditemukan di berbagai sudut desa.

Warga memanfaatkannya sebagai pembatas pekarangan karena tanaman itu tumbuh rimbun tanpa membutuhkan perawatan khusus.

“Karena rambatannya lebat, dulu pagar-pagar orang menggunakan bunga ini. Indah sekali pokoknya dulu,” kata Ratmaja, Jumat, 9 Oktober 2026.

Bunga jempiring yang dimaksud Ratmaja memiliki kelopak berwarna kuning dengan bentuk menyerupai matahari berukuran kecil. Bunganya tumbuh lebat sehingga menghasilkan pemandangan yang indah ketika bermekaran.

Namun, keberadaannya kini semakin jarang terlihat dan hanya tersisa di beberapa titik.

Ia menjelaskan, bunga tersebut biasanya tumbuh saat peralihan musim hujan menuju musim kemarau. Masyarakat setempat mengenal periode itu sebagai musim-musimnya Lombok, ketika berbagai jenis bunga mulai bermekaran.

“Perpindahan musim panas ke hujan itu biasanya bunga-bunga tumbuh. Makanya kita sebut musim-musimnya Lombok,” ujarnya.

Filosofi Empat K

Ratmaja mengaitkan nama Desa Kembang Kuning dengan keberadaan bunga tersebut pada masa lalu. Dalam bahasa Lombok, kata kembang berarti bunga, sedangkan kuning merujuk pada warna bunga jempiring yang dahulu banyak tumbuh di kawasan itu.

Selain menjelaskan asal-usul nama desa, Ratmaja memperkenalkan filosofi empat K, yakni kembang kuning, kembang desa, kembang mata, dan kembang hati.

Filosofi tersebut menggambarkan hubungan antara keindahan desa, daya tarik bagi pengunjung, dan kenangan yang melekat setelah seseorang meninggalkannya.

Kembang kuning merujuk pada bunga yang menjadi ciri khas desa. Kembang desa menggambarkan identitas dan keindahan wilayah, sedangkan kembang mata bermakna daya tarik yang membuat orang ingin kembali berkunjung.

Sementara itu, kembang hati menggambarkan ikatan emosional yang tetap bertahan meskipun seseorang telah meninggalkan desa.

“Kalau dia sudah datang ke sini, mereka pasti akan kembali lagi. Makanya disebut kembang mata. Kembang hati itu dia selalu ada di hatinya,” katanya.

Ia menjelaskan, filosofi tersebut menggambarkan kesan mendalam yang diharapkan muncul pada setiap orang yang berkunjung ke Desa Kembang Kuning. “Kalau kita sudah pergi, tetap hati kita ada di sini. Itu filosofinya,” ujarnya.

Bagi Ratmaja, bunga jempiring bukan sekadar tanaman yang pernah menghiasi pagar rumah warga.

Bunga tersebut juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang dapat menjadi bahan cerita rakyat untuk memperkenalkan identitas Desa Kembang Kuning kepada generasi berikutnya. (*)

Artikel Terkait