Lombok TimurPemerintahan

Disnakeswan Lombok Timur Catat Dugaan PMK, Lalu Lintas Ternak Jadi Sorotan

Lombok Timur (NTBSatu) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur menyoroti pergerakan ternak antarkabupaten yang berpotensi membawa penyakit ke wilayah setempat.

Langkah ini menjadi perhatian setelah muncul laporan dugaan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sejumlah sapi di beberapa kecamatan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur, Hultatang mengatakan, pihaknya menerima laporan dugaan penyakit pada beberapa titik. Dalam satu kecamatan, terdapat sekitar empat hingga lima ekor sapi yang menunjukkan gejala mirip PMK.

IKLAN

Namun, Hultatang menegaskan pihaknya belum dapat memastikan sapi-sapi tersebut terjangkit PMK. Dinas masih perlu mengambil sampel dan melakukan pemeriksaan untuk memastikan status penyakitnya.

“Kalau dia PMK atau tidak, belum bisa dibenarkan. Kita harus ambil sampel terhadap sapi yang sakit,” ujarnya, Minggu, 13 September 2026.

Sapi Pasar Jadi Perhatian

Hultatang menjelaskan, sebagian sapi yang menunjukkan gejala tersebut diduga berasal dari pasar hewan. Peternak membeli sapi dari pasar yang mendatangkan ternak dari berbagai wilayah, termasuk Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Utara.

IKLAN

Kondisi itu menyulitkan petugas untuk menelusuri asal-usul dan status kesehatan setiap ternak. Setelah berpindah tangan, sapi-sapi tersebut masuk ke kandang peternak di berbagai desa dan kecamatan.

“Pasar hewan itu mendatangkan sapi dari berbagai tempat. Kita jadi kesulitan melihat status kesehatan dan asal-usul sapinya,” ujarnya.

Untuk menindaklanjuti laporan tersebut, Hultatang menyebut, pihaknya berencana bekerja sama dengan pihak terkait dan pengelola pasar untuk mengirimkan sampel sapi yang sakit.

Pemeriksaan itu penting untuk membedakan PMK dari penyakit lain yang memiliki gejala serupa, seperti bovine ephemeral fever (BEF).

Hultatang menyebut, perubahan cuaca dan lalu lintas ternak turut memengaruhi kondisi kesehatan hewan. Karena itu, dinas mendorong pengetatan pergerakan ternak antarkabupaten, terutama sapi yang masuk dan keluar pasar hewan.

Vaksinasi Belum Jangkau Semua Sapi

Selain pengawasan lalu lintas ternak, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan terus mendorong peternak melakukan vaksinasi secara rutin.

Hultatang mengatakan, Lombok Timur menerima sekitar 55 ribu dosis vaksin PMK pada 2026 dan telah menggunakan sekitar 30 ribu dosis.

Jumlah tersebut masih perlu dimaksimalkan karena populasi sapi di Lombok Timur mencapai sekitar 130 ribu ekor berdasarkan data 2025. Selain itu, peternak harus memberikan vaksin kepada anak sapi yang baru lahir dan ternak yang datang dari luar daerah.

“Vaksinasi itu harus rutin dan terjadwal. Kalau vaksin pertama, sebulan kemudian vaksin kedua, lalu booster setiap enam bulan,” jelasnya.

Hultatang juga mengingatkan peternak agar tidak menunggu sapi sakit untuk melakukan vaksinasi. Menurutnya, vaksinasi bertujuan membangun kekebalan tubuh ternak, sedangkan pengobatan berfokus pada penanganan gejala ketika hewan sudah sakit.

Ia menilai, sapi penggemukan menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian. Ketika sapi sakit dan kehilangan nafsu makan, berat badannya dapat turun sehingga peternak mengalami kerugian, sementara biaya pakan tetap berjalan.

“Peternak harus memahami bahwa ternak itu investasi. Kita harus memastikan ternak mereka sehat dan terlindungi dari penyakit menular seperti PMK,” katanya.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur juga menyiapkan program Delago, singkatan dari Datangi, Edukasi, dan Layani.

Melalui program tersebut, petugas akan mendatangi peternak, memberikan edukasi, melayani vaksinasi, serta menyiapkan kartu ternak untuk mencatat status vaksinasi dan kesehatan hewan.

Hultatang berharap, peternak lebih terbuka terhadap edukasi dan tidak mudah mempercayai informasi yang keliru mengenai vaksinasi.

“Jangan menunggu sapi sakit. Sapi yang sehat itulah yang harus divaksin,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait