Kemarau Ekstrem Meluas, BMKG Tetapkan Tujuh Daerah di NTB Status Awas Kekeringan
Mataram (NTBSatu) – Seluruh wilayah NTB kini resmi memasuki periode musim kemarau yang makin tajam akibat fenomena El Nino. Kondisi tersebut memicu kekeringan meteorologis memanjang. Rekor Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Kabupaten Bima kini menembus angka 74 hari.
Berdasarkan analisis iklim BMKG Stasiun Klimatologi (Staklim) NTB, pada Dasarian III Juli 2026, curah hujan di wilayah NTB secara umum masuk kategori Sangat Rendah (0–10 mm per dasarian). BMKG mencatat curah hujan tertinggi hanya terjadi di Pos Hujan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, yaitu sebesar 19 mm per dasarian.
Sementara itu, sifat hujan pada periode ini mendominasi kategori Bawah Normal (BN). Pemantauan Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) menunjukkan variasi dari kategori Sangat Pendek (1–5 hari) hingga Kekeringan Ekstrem (>60 hari).
BMKG mencatat HTH terpanjang melanda Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima, kedua wilayah tersebut tidak menerima hujan sama sekali selama 74 hari berturut-turut. Prakirawan BMKG Staklim NTB, Suci Agustiarini, mengingatkan masyarakat untuk bijak menggunakan air.
“Masyarakat perlu menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih. Seiring meluasnya wilayah yang masuk status Siaga hingga Awas kekeringan,” ujarnya pada Sabtu, 1 Agustus 2026.
Sebaran Wilayah Rawan Kekeringan
Guna mengantisipasi dampak yang lebih meluas, BMKG telah memetakan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis yang membagi daerah terdampak ke dalam tiga tingkatan status kewaspadaan.
Status Awas meliputi tujuh kabupaten/kota. Pertama, Lombok Timur (Labuhan Haji, Pringgabaya, Suela, Sukamulia, Wanasaba). Kedua, Lombok Utara (Bayan). Ketiga, Sumbawa Barat (Jereweh). Keempat, Sumbawa (Labuhan Badas, Moyo Utara, Moyo Hilir, Sumbawa, Unter Iwes). Kelima, Dompu (Kilo, Pajo). Keenam, Bima (Belo, Bolo). Serta ketujuh Kota Bima (Raba).
Status Siaga menjangkau wilayah Lombok Barat (Batulayar, Labuapi, Lembar), Lombok Tengah (Batukliang, Janapria), Lombok Timur (Jerowaru, Keruak, Sakra Barat, Sikur, Terara), Lombok Utara (Gangga, Tanjung), Sumbawa Barat (Poto Tano), Sumbawa (Batulanteh), Dompu (Manggelewa, Woja), dan Bima (Donggo, Lambitu, Soromandi).
Sedangkan status Waspada meliputi daerah Lombok Barat (Sekotong), Sumbawa Barat (Taliwang), Sumbawa (Empang), dan Bima (Lambu).
Suci menambahkan, peluang munculnya hujan pada Dasarian I Agustus 2026 (1-10 Agustus) di seluruh wilayah NTB sangat tipis. Ia menyebut peluang tersebut hanya di bawah 10 persen.
BMKG meminta pemerintah daerah dan warga NTB agar segera mengambil langkah antisipasi. Selain mengancam ketersediaan air bersih untuk kebutuhan harian dan pertanian, kemarau panjang ini meningkatkan risiko kebakaran hutan, lahan, hingga area pemukiman secara signifikan.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. Di samping itu, warga juga perlu menjaga kondisi fisik serta kecukupan cairan tubuh di tengah terik cuaca yang menyengat. (*)




