Pendidikan

FATEPA Summer Course 2026 Bawa Inovasi Pangan Lombok ke Dunia

Mataram (NTBSatu) – Teknologi biorefinery rumput laut, pertanian tanpa tanah, rekayasa mouthfeel, hingga analisis kimia kopi menjadi bagian dari FATEPA Summer Course Program 2026 bertema “Savory The Island” di Universitas Mataram.

Program yang berlangsung pada 24–29 Agustus 2026 itu mempertemukan potensi pangan dan industri lokal dengan perkembangan teknologi pangan yang dipelajari peserta dari Indonesia, Pakistan, Tanzania, Bangladesh, dan Nigeria. Notulensi Summer Course

Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah seaweed biorefinery.

IKLAN

Mutia Devi Ariyana, S.Si., MP, melalui materi Beyond The Harvest: Development of Bio-products & Seaweed Biorefinery, menjelaskan bahwa rumput laut memiliki peluang pemanfaatan yang lebih luas daripada sekadar bahan mentah.

“Biomassa rumput laut dapat dikembangkan menjadi prebiotik, sinbiotik, postbiotik, edible film, serta biopolimer. Residu pengolahan juga dapat dimanfaatkan kembali dalam sistem produksi bertingkat,” kata Mutia.

Dalam materinya, Mutia memperkenalkan pendekatan biorefinery sebagai upaya memanfaatkan satu sumber biomassa menjadi beberapa jenis produk sekaligus, termasuk penggunaan kembali residu agar proses produksi lebih efisien.

IKLAN

Selanjutnya, Prof. Ir. Zainuri, PGDip., M.App.Sc., Ph.D. membahas tekonologi pengolahan komoditas lokal lainnya memlaui materi tentang porang dan glukomanan.

Zainuri menjelaskan, peningkatan nilai porang membutuhkan pengolahan lebih lanjut. Pemurnian glukomanan, pengurangan kalsium oksalat, serta pengendalian proses diperlukan untuk memperoleh bahan dengan mutu lebih tinggi.

Pembahasan inovasi kemudian bergerak dari teknologi pengolahan menuju sistem produksi.

Dr. Diah Ajeng Setiawati, ST., MES. membawakan sesi Indoor Farming Soilless Cultivation. Peserta mempelajari produksi tanaman tanpa tanah melalui pendekatan Controlled Environment Agriculture.

Dalam materinya, Diah menjelaskan bagaimana cahaya, suhu, kelembapan, karbon dioksida, dan larutan nutrisi dapat dikendalikan sesuai kebutuhan tanaman. Sistem hidroponik dan vertical farming juga diperkenalkan sebagai pendekatan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan ruang.

Pada sesi praktik, peserta menggunakan pH meter dan Electrical Conductivity meter, melakukan penyemaian menggunakan rockwool, serta mempelajari perpindahan tanaman ke sistem vertikal. Pemanfaatan sensor berbasis Internet of Things juga dibahas dalam konteks pertanian presisi.

Pembelajaran kemudian bergerak ke struktur dan sifat pangan pada skala yang lebih kecil.

Prof. Tonya Kuhl membahas bagaimana karakter sensorik pangan dapat dipelajari melalui food engineering. Dalam Controlling and Quantifying Mouthfeel, ia menjelaskan hubungan antara struktur produk, reologi, gesekan, dan lubrikasi.

Pada sesi lain, The Chemistry of Coffee and q-TOF Gas Chromatography/Mass Spectrometry, Tonya membahas transformasi kimia selama penyangraian kopi.

Reaksi Maillard, karamelisasi, fragmentasi, serta pembentukan senyawa volatil menjadi bagian dari perubahan yang menentukan karakter kopi. Teknologi GC-qTOF-MS digunakan untuk mempelajari profil kimia senyawa yang berkaitan dengan aroma.

Teknologi yang dibahas di kelas dan laboratorium kemudian dipertemukan dengan praktik industri lokal.

Di Kampung Coklat, Desa Senare, peserta mempelajari fermentasi dan pengeringan kakao sebelum melihat tahapan roasting, winnowing, grinding, dan conching. Kunjungan tersebut menunjukkan pentingnya kontrol proses sejak pascapanen hingga pengolahan akhir terhadap mutu cokelat.

Sementara di Lombok Cashew, peserta mempelajari pengeringan, perlakuan panas, shelling, peeling, sortasi, grading, pemberian rasa, serta pengemasan kacang mete. Narasumber dari Lombok Cashew juga membahas model kemitraan dengan petani lokal dan pemasaran produk.

Rangkaian FATEPA Summer Course Program 2026 memperlihatkan bagaimana komoditas dan praktik pengolahan lokal dapat dipelajari bersama perkembangan teknologi pangan modern.

Tema “Savory The Island” dalam program ini tidak hanya memperkenalkan kekayaan pangan daerah, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat bagaimana sains dan teknologi dapat digunakan untuk memahami bahan, menjaga mutu, meningkatkan efisiensi, serta memperluas nilai tambah produk pangan. (*)

Artikel Terkait