PendidikanSumbawa Barat

Literasi Sumbawa Barat Masih 63 Persen, Candu Gadget Jadi Tantangan

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Sumbawa Barat, mencatat angka kegemaran membaca masyarakat baru mencapai 63 persen. Angka tersebut masih berada bawah target ideal yang berkisar antara 80 hingga 100 persen.

Kepala Dinas Arpusda Sumbawa Barat, H. Burhan Daeng Mangago mengungkapkan, pihaknya kini memerlukan upaya bersama guna menumbuhkan budaya membaca sejak dari lingkungan keluarga.

Pemerintah daerah bersama Bunda Literasi terus berikhtiar meningkatkan indeks kegemaran membaca masyarakat setempat. Burhan menilai, literasi merupakan fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

IKLAN

“Alhamdulillah Ibu Wakil Bupati sebagai Bunda Literasi terus memberikan dukungan kepada kami. Saat ini tingkat kegemaran membaca kita baru sekitar 63 persen,” ujarnya, Minggu, 12 Juli 2026. 

Sumbawa Barat juga menerima kepercayaan besar menjadi tuan rumah Kemah Literasi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2027. Pengumuman resmi tersebut berlangsung dalam kegiatan Kemah Literasi NTB di Mataram.

Penunjukan tersebut menjadi motivasi sekaligus tantangan besar bagi daerah untuk memperkuat gerakan literasi. Pemerintah daerah berkomitmen menggerakkan program ini hingga menjangkau tingkat desa.

IKLAN

“Gubernur NTB bersama Bunda Literasi NTB menetapkan Kabupaten Sumbawa Barat sebagai tuan rumah Kemah Literasi tahun 2027,” katanya.

Literasi Jadi Bekal Utama

Burhan menjelaskan, makna literasi mencakup kemampuan memahami, mengkaji, berpikir kritis, hingga menulis. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan zaman.

Namun, ia mengakui tantangan membangun budaya literasi saat ini semakin berat. Perkembangan teknologi digital membuat anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada buku bacaan.

“Kalau sekarang ada anak menangis, yang diberikan justru handphone. Padahal akan lebih baik jika diberikan buku,” tuturnya.

Ia menilai, lingkungan keluarga memegang kunci utama dalam membangun budaya membaca sejak dini. Orang tua sebaiknya membiasakan anak-anak membawa buku saat bermain di sekitar rumah.

Burhan berharap, setiap desa segera memiliki pojok literasi sebagai tempat berkumpul anak-anak. Ruang tersebut berfungsi untuk membaca, berdiskusi, hingga membedah buku bersama.

“Kalau budaya seperti itu tumbuh, tingkat kegemaran membaca kita akan meningkat,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait