Sumbawa Barat

Petakan Stunting Anak Sekolah, Dinkes KSB Rancang Tim Nakes Khusus

Sumbawa Barat (NTBSatu) Dinas Kesehatan (Dinkes) KSB merancang tim tenaga kesehatan (nakes) khusus Puskesmas. Langkah ini bertujuan mengoptimalkan pemetaan kasus stunting pada anak sekolah.

Dinkes KSB menggodok program ini melalui Rencana Kebutuhan (Renbut) SDM Kesehatan Tahun 2026. Regulasi baru tersebut mengatur agar setiap pemegang program bekerja fokus tanpa beban rangkap jabatan.

Melalui dokumen perencanaan tersebut, pemerintah daerah memperkuat formasi nakes untuk pelayanan anak sekolah dan remaja. Kebijakan ini membuat petugas lapangan bisa bekerja maksimal tanpa gangguan pelayanan klinis harian di Puskesmas.

IKLAN

Kepala Dinas Kesehatan KSB, dr. Carlof Sitompul, M.MRS., MQM., menilai, penataan ulang porsi kerja ini sangat mendesak. Menurutnya, tim mandiri harus mengawal agenda pemeriksaan gratis agar menghasilkan data yang akurat.

“Kami ingin pemegang program UKS dan PKPR di tiap Puskesmas fokus pada fungsi mereka. Mereka tidak boleh merangkap tugas operasional klinis lain,” ujarnya Selasa, 9 Juni 2026.

Tim Khusus Percepat Deteksi Stunting

Standar Kementerian Kesehatan menetapkan satu tim skrining ideal berisi empat hingga lima nakes lintas keahlian. Komposisi tim ini melibatkan dokter umum, dokter gigi, tenaga gizi, serta petugas promosi kesehatan atau sanitarian.

IKLAN

Gabungan keahlian ini bertugas memeriksa status kesehatan siswa secara menyeluruh. Pemeriksaan itu meliputi pengecekan tekanan darah, kondisi gigi, hingga kesehatan mulut siswa.

Tenaga gizi memegang peran penting untuk mengukur tinggi dan berat badan siswa. Mereka menggunakan formulasi Indeks Massa Tubuh (IMT) guna mendeteksi angka stunting dan gizi buruk.

Sementara itu, petugas sanitarian memeriksa kualitas kesehatan lingkungan sekolah. Mereka juga memberikan pembekalan langsung terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada para siswa.

“Komposisi lengkap ini membuat satu tim mampu memeriksa 100 siswa per hari. Kita bisa memetakan masalah stunting dan kesehatan mulut langsung di sekolah,” katanya.

Saat ini, jajaran dinas kesehatan menghadapi tantangan beban kerja wilayah yang cukup luas. Petugas harus memeriksa sekitar 27.500 siswa di seluruh Kabupaten Sumbawa Barat.

Kondisi formasi nakes saat ini membutuhkan total 275 hari kerja untuk menuntaskan target tersebut. Oleh karena itu, Dinkes KSB mempercepat target melalui rangkaian bimbingan teknis (Bimtek) yang melibatkan Kementerian Kesehatan.

“Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan sudah mematangkan kapasitas nakes lewat Bimtek. Sekarang Renbut 2026 tinggal mengamankan kuantitas dan regulasi penempatan personel,” tambahnya.

Sinergi kompetensi nakes dan penambahan personel ini akan menyukseskan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Langkah ini menjadi bukti komitmen jangka panjang pemerintah daerah untuk melahirkan generasi yang sehat.

“Akselerasi skrining ini bukan sekadar formalitas mengukur badan. Ini investasi besar daerah untuk mencetak generasi emas Sumbawa Barat yang bebas stunting,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait