Tiga Gunung Api di NTB Berstatus Waspada, PVMBG dan ESDM Intensifkan Pemantauan
Mataram (NTBSatu) – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB mencatat tiga gunung api di NTB saat ini berstatus Level II atau Waspada. Ketiga gunung api yang mengalami kenaikan aktivitas vulkanik tersebut meliputi Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Gunung Tambora dan Gunung Sangeangapi di Pulau Sumbawa.
Meskipun kenaikan status terjadi dalam periode yang berdekatan, ESDM menegaskan fenomena ini tidak berasal dari satu pemicu tunggal di bawah permukaan tanah.
Penilaian teknis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan, setiap gunung api memiliki karakteristik. Selain itu, jalur suplai magma dan sistem magmatik yang berdiri sendiri tanpa ada keterkaitan langsung antara satu dengan lainnya.
Hal ini sesuai informasi dari Sekretaris Dinas ESDM NTB, Niken Arumdati, yang membenarkan kabar tersebut. “Memang menarik karena saat ini Rinjani, Tambora, dan Sangeangapi sama-sama berada pada Level II atau Waspada,” ujarnya kepada NTBSatu pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Kondisi Tektonik dan Evaluasi Parameter
Niken menjelaskan, secara geologis kawasan NTB berada tepat di atas zona subduksi dan jalur lingkar api Pasifik yang sangat aktif. Aktivitas tektonik regional yang tinggi secara alami memicu peningkatan dinamika vulkanis pada gunung api di sekitarnya.
Oleh karena itu, PVMBG bersama Dinas ESDM NTB terus mengintensifkan pemantauan instrumen seismik dan pengamatan visual di lapangan secara real time.
Terkait dengan evaluasi tingkat bahaya, Niken menegaskan bahwa penetapan eskalasi aktivitas tidak bisa hanya bersandar pada fluktuasi angka kegempaan harian semata.
Tim ahli membutuhkan pembacaan komprehensif terhadap tren deformasi permukaan tanah, emisi gas vulkanik, serta pencatatan seismisitas. Aksi ini juga harus berlangsung dalam kurun waktu yang memadai untuk menyimpulkan kondisi riil gunung api tersebut.
”Namun berdasarkan data PVMBG, kita belum dapat mengatakan bahwa ketiganya dipicu oleh satu fenomena yang sama di bawah permukaan,” katanya.
Ia menambahkan untuk menyatakan eskalasi tertinggi tidak bisa sekadar melihat jumlah gempa dalam beberapa hari saja.
“Untuk menyatakan mana yang eskalasinya paling tinggi, kita tidak cukup melihat jumlah gempa satu atau dua hari saja. Harus lihat trennya bersama data deformasi, kegempaan, visual, dan parameter lainnya.”
Imbauan Keselamatan untuk Warga
Menanggapi status Waspada pada ketiga gunung api tersebut, Pemerintah Daerah meminta masyarakat sekitar dan para wisatawan agar tetap tenang serta tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu liar yang tidak jelas sumbernya.
Niken juga mengimbau warga untuk terus memantau informasi resmi dan secara ketat mematuhi rekomendasi radius aman sesuai ketetapan. Hal ini untuk menghindari potensi bahaya erupsi maupun bahaya sekunder lainnya.
Langkah kewaspadaan ini terus diperketat mengingat aktivitas vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan dinamika di bawah permukaan. Pihak dinas juga memastikan koordinasi dengan badan penanggulangan bencana daerah di tingkat kabupaten/kota tetap berjalan siaga guna mengantisipasi segala kemungkinan perkembangan di lapangan.
”Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap mengikuti rekomendasi resmi dan tidak beraktivitas pada radius dalam ketetapan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar seluruh pihak terus mematuhi arahan teknis hanya dari otoritas resmi.
“Sampai saat ini ketiganya masih berada pada Level II atau Waspada. Sehingga kami tetap mengacu pada evaluasi dan rekomendasi resmi PVMBG,” pungkasnya. (*)




