Headline NewsHukrim

Misteri Pria Baru di Kehidupan NDR yang Belum Diceritakan ke Ibunya

Mataram (NTBSatu) – Polresta Mataram semakin mengintensifkan penyelidikan terhadap orang-orang di lingkungan NDR, mahasiswi Universitas Mataram (Unram) yang meninggal di kamar kosnya, kawasan Gomong Sakura pada Minggu, 17 Mei 2026.

Hingga hari ke-46 sejak penemuan jasad korban, polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus yang kini naik ke tahap penyidikan. Ibu NDR, Eni Widyawati membeberkan informasi penting mengenai masalah hubungan asmara korban beberapa hari sebelum peristiwa nahas tersebut.

“Nadia sempat menelepon duluan dan meminta video call. Kalimat pembuka yang dia sampaikan saat kami tersambung adalah, ‘Mama, saya baru putus, saya sudah putus.’ Saat itu saya langsung menenangkan dia dan meminta dia fokus kuliah saja,” ujarnya pada Minggu, 5 Juni 2026.

IKLAN

Teka-Teki Sosok Pria Baru

Eni membagikan informasi tersebut melalui sambungan telepon dalam sebuah wawancara daring bersama NTBSatu. Ia mengenang momen komunikasi terakhir dengan sang putri pada hari Kamis, sebelum warga menemukan jasad NDR.

Selama ini, Eni hanya mengenal dekat mantan kekasih NDR yang berada di Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Ia mengaku sama sekali tidak menaruh kecurigaan sama sekali terhadap pemuda tersebut.

Namun, Eni mengaku terkejut saat mendengar kabar yang beredar di media sosial mengenai adanya sosok pria baru yang sedang mendekati NDR di Mataram. Selama ini, korban selalu terbuka mengenai siapa saja yang mencoba mendekatinya.

IKLAN

“Saya pribadi sama sekali tidak kenal dengan pacar atau mantan barunya yang ramai beredar itu. Saya sempat kaget sejak kapan dia kenal, karena biasanya kalau almarhumah dekat dengan seseorang, pasti cerita ke saya,” tegas Eni.

Ketiadaan cerita langsung dari korban memicu tanda tanya besar mengenai identitas pria yang berada di lingkaran terdekat NDR sebelum insiden.

Dugaan Motif Dendam Pribadi

Kuasa hukum keluarga korban dari Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Unram, Joko Jumadi, menilai informasi mengenai hubungan asmara ini merupakan petunjuk krusial bagi polisi.

Joko menduga kuat motif kejahatan ini berakar dari masalah personal seperti kebencian, ketersinggungan atau dendam, bukan merupakan perampokan murni. Hal ini berdasarkan keadaan TKP yang memperlihatkan barang-barang berharga milik korban masih utuh dan lemari pakaian tidak mengalami pengacakan.

Pelaku hanya membawa kabur gawai dan sepeda motor korban yang diduga kuat untuk memutus pelacakan digital.

“Melihat kondisi TKP di mana laptop dan barang berharga lain tidak hilang, motifnya kemungkinan besar bukan harta. Tapi bisa ketersinggungan, kebencian, atau dendam. Karena itu, sangat wajar jika penyidik harus lebih banyak memeriksa orang-orang yang pernah dekat, sedang dekat, atau yang mau dekat dengan korban,” tegas Joko.

Joko menambahkan, hasil autopsi memastikan korban meninggal akibat manual strangulasi atau cekikan tangan secara langsung.

Oleh karena itu, Joko mendesak kepolisian untuk memaksimalkan pembuktian ilmiah, termasuk mencocokkan sampel DNA dengan orang-orang di ring satu korban. Selain itu, ia meminta memeriksa rekaman dua kamera CCTV di sekitar gang kos, serta melakukan uji kebohongan guna memberikan kepastian hukum bagi keluarga korban. (*)

Artikel Terkait