DPRD NTB Desak Pemprov Segera Gunakan BTT Perbaiki Gedung SMAN 7 Mataram yang Roboh
Mataram (NTBSatu) – Robohnya dua ruang kelas di SMAN 7 Mataram memicu sorotan serius dari DPRD NTB. Legislatif mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB segera menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT), untuk memperbaiki bangunan sekolah yang ambruk, agar aktivitas belajar siswa tidak terganggu lebih lama.
Anggota Komisi III DPRD NTB, Muhammad Aminurlah menilai, penanganan pascakejadian tidak boleh menunggu proses hukum maupun pembahasan anggaran reguler. Menurutnya, pemerintah harus bergerak cepat, karena insiden tersebut sudah menyangkut keselamatan dunia pendidikan.
“Sekarang pemerintah harus melihat sekolah-sekolah yang sangat membutuhkan revitalisasi. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi,” ujar Aminurlah kepada NTBSatu, Selasa malam, 19 Mei 2026.
Ia menegaskan, langkah pertama yang harus pemerintah lakukan adalah pemulihan kondisi sekolah menggunakan dana BTT. Setelah itu, baru proses evaluasi dan penyelidikan terkait penyebab ambruknya bangunan.
“Yang pertama itu segera recovery (pemulihan, red) dari kejadian itu. Harus segera menggunakan BTT supaya anak-anak bangsa ini bisa beraktivitas lagi,” kata legislator dari PAN tersebut.
Menurut politisi DPRD NTB itu, insiden robohnya bangunan sekolah tidak bisa pemerintah anggap sebagai persoalan biasa. Apalagi, peristiwa tersebut menimbulkan korban siswa.
“Ini perlu dievaluasi dan diselidiki kenapa bisa begini. Jangan bermain-main dengan urusan pendidikan yang menentukan masa depan anak-anak bangsa,” tegasnya.
Aminurlah juga menyoroti pentingnya pengawasan pemerintah terhadap proyek-proyek pendidikan, terutama yang berkaitan dengan rehabilitasi sekolah.
“Inilah perlunya pemerintah lebih dalam pengawasannya terhadap urusan pendidikan. Jangan sampai investasi pendidikan ini terus memakan korban,” ujarnya.
Bangunan Berusia 20 Tahun
Sebelumnya, Pemprov NTB menyebut, bangunan yang roboh merupakan bangunan lama yang dibangun sejak 2006 atau berusia 20 tahun. Bangunan SMAN 7 Mataram tersebut sebenarnya masuk dalam program rehabilitasi melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2024, namun pengerjaannya belum tuntas karena masih tersangkut proses hukum.
Peristiwa ambruknya dua ruang kelas itu menyebabkan lima siswa mengalami luka ringan. Empat siswa telah dipulangkan, sementara satu siswa masih menjalani observasi medis.
Peristiwa ambruknya bangunan terjadi saat jam istirahat berlangsung. Berdasarkan pemeriksaan awal, bagian atap mengalami patah pada konstruksi kap sehingga menyebabkan bangunan runtuh.
Meski demikian, Pemprov NTB memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan dengan memanfaatkan ruang kelas XII yang sudah kosong pasca ujian akhir. (Zani)




