Atasi Jaringan Lemah, Diskominfo KSB Kebut Tiang Fiber Optik ke Desa Kelanir
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumbawa Barat memacu penuntasan infrastruktur telekomunikasi di Desa Kelanir Kecamatan Seteluk. Pemerintah daerah menargetkan pemulihan pemancar sinyal internet bagi warga setempat secepatnya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) KSB, Dedy Damhudy M. Khatim, S.P., M.Si. memastikan pengerjaan fisik di lapangan terus berjalan. Warga Kelanir memerlukan koneksi internet cepat untuk mendukung aktivitas harian mereka.
“Khusus untuk Kelanir, insya Allah awal bulan ini dalam tahap penyelesaian masalah jaringan yang lemah, masih menunggu rampung tiang FO,” ujar Dedy, kepada NTBSatu, Kamis, 2 Juli 2026.
Pihak operator seluler memilih kabel fiber optik sepanjang 3,9 kilometer sebagai solusi terbaik. Jaringan kabel premium ini membentang langsung dari Desa Meraran menuju Desa Kelanir.
Pemerintah daerah mengambil peran penting dalam memfasilitasi penyediaan tiang penyangga kabel. Langkah mandiri ini menjadi kunci utama percepatan proyek strategis daerah.
“Solusinya pakai kabel FO dan kita diminta menyediakan tiang saja sebagai penunjang pemasangan kabel,” ucap Dedy.
Sebelumnya, pihaknya sempat merancang pemasangan penguat sinyal pada menara BAKTI. Namun, status kepemilikan aset menara tersebut memicu pembatalan rencana awal pemerintah.
Pihaknya mengkhawatirkan potensi masalah hukum pada masa depan. Selain itu, jangkauan alat penguat sinyal tersebut tergolong sangat terbatas.
“Awalnya kita ingin menempatkan repeater dengan memanfaatkan tower Bakti itu, tapi alasannya tower tersebut bukan aset mereka,” jelas Dedy.
Beralih ke Fiber Optik
Kini, Diskominfo KSB mengalihkan perangkat penguat sinyal itu ke wilayah lain yang membutuhkan. Desa Seminar Salit Kecamatan Brang Rea menerima manfaat pengalihan alat tersebut.
Manajemen proyek mengklaim metode kabel fiber optik menghasilkan kualitas jaringan yang jauh lebih optimal. Kecepatan transfer data internet akan menjadi lebih stabil dan memuaskan.
“Pemanfaatan repeater terbatas jangkauannya, sehingga manfaatnya tidak dapat masyarakat rasakan secara luas,” urai Dedy.
Warga Kelanir menghadapi kendala komunikasi serius sejak akhir tahun 2024 lalu. Penghentian operasional menara BAKTI memicu kelumpuhan total aktivitas daring masyarakat desa.
Efisiensi anggaran dari kementerian pusat menjadi penyebab utama berhentinya fasilitas menara tersebut. Kondisi ini merugikan para pelajar yang membutuhkan akses informasi digital.
Kini, masyarakat Kelanir menggantungkan harapan besar pada tuntasnya pengerjaan kabel fiber optik. Sinyal yang kuat bakal mendorong kemajuan sektor ekonomi lokal secara signifikan.
Pemerintah daerah berjanji akan terus mengawal pengerjaan tiang hingga tuntas sepenuhnya. Mereka ingin memastikan hak komunikasi masyarakat terpenuhi dengan baik.
“Insya Allah, kalau semua pekerjaan fisik sudah selesai, jaringan baru ini akan langsung kita resmikan,” pungkas Dedy. (*)




