Catatan Satu Tahun LazAdha: Lima Prioritas, Ragam Capaian
Bundaran Giri Menang, Simbol ke Harapan
Bundaran Giri Menang bukan sekadar simpang lalu lintas. Dalam satu tahun terakhir, kawasan ini menjadi simbol perubahan wajah ibu kota kabupaten.
Melalui penataan kawasan dan penataan aktivitas ekonomi, Bundaran Giri Menang bertransformasi menjadi ruang hidup baru. Pedagang kecil kembali menggeliat, ruang publik semakin ramah, dan aktivitas sosial tumbuh secara organik.
Sejumlah warga menyebut, perubahan di kawasan ini membuka harapan baru bagi ekonomi keluarga. Penataan tidak hanya berorientasi estetika, tetapi juga keberpihakan pada masyarakat kecil yang menggantungkan hidup di ruang publik.
Salah satu saksi hidup perubahan itu bernama Inak Siti, pedagang kecil di bundaran Giri Menang tersebut. Inak Siti bersaksi, perubahan sangatlah dirasakan sejak Bupati dan Wakil Bupati ini naik.
“Sekarang ramai. Pembeli ada. Lingkungannya bersih. Kami juga sering disapa,” tuturnya pelan kepada NTBSatu, Selasa, 20 Januari 2026.
“Bupati yang sekarang ini memang sering turun langsung melihat kita yang kecil-kecil ini.” pujinya pada LAZ. Rasa syukur itu ia sampaikan tanpa ragu. Bahkan, ketika bicara soal masa depan politik daerah.

“Kalau misalnya beliau mencalonkan diri lagi, saya yakin banyak masyarakat yang bakal pilih dia. Tidak perlu pakai uang segala macam. Orang sudah lihat sendiri kerjanya,” ujar Inak Siti mantap.
Pada sisi lain, Bupati Lalu Ahmad Zaini menegaskan, penataan Taman Kota dan Bundaran Giri Menang diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi Lombok Barat ke depannya. Bahkan, LAZ optimis, infrastruktur ini akan ramai di masa depan dan membuat Gerung menjadi lebih hidup.
“Saya ingin Lombok Barat menjadi pusat kesenian di NTB, sehingga turis- turis berdatangan ke Lombok Barat nantinya, paling tidak menyamai Bali, yang akan menghidupkan budaya- budaya lokal kita,” ujar LAZ dalam sambutannya di Acara Refleksi Satu Tahun Kepemimpinannya.



